Warga Palestina Peringati 78 Tahun Nakba di Tengah Genosida Gaza

Warga Palestina Peringati 78 Tahun Nakba di Tengah Genosida Gaza

Masyarakat Palestina memperingati 78 tahun peristiwa Nakba atau pembersihan etnis saat pendirian negara Israel pada Jumat (15/5/2026) di tengah situasi perang yang terus berlanjut. Peringatan tahun ini menjadi yang ketiga kalinya sejak Israel memulai aksi genosida di Jalur Gaza pada tahun 2023 silam.

Peristiwa Nakba yang terjadi pada 1948 mengakibatkan pengusiran sekitar 750.000 warga Palestina dari tanah yang kini dikuasai Israel. Data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menunjukkan bahwa serangan Israel sejak Oktober 2023 telah membunuh lebih dari 72.700 jiwa, sebagaimana dilansir dari Kompas.

Jumlah korban jiwa tersebut diperkirakan jauh lebih besar karena masih banyak jenazah yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Sejarah mencatat bahwa penyintas Nakba 1948 dilarang kembali oleh Israel sehingga mereka menetap di wilayah Gaza dan Tepi Barat.

Penyintas Nakba di Gaza, Abu Hamam, yang kini berusia 78 tahun membandingkan situasi saat ini dengan tragedi keluarganya dahulu. Pria yang berasal dari Desa Al-Joura ini menyebut penghancuran massal rumah-rumah oleh tentara Israel membuat warga tidak memiliki tempat kembali.

"Tidak ada yang tersisa. Satu setengah kilometer dari laut, ini yang menjadi tempat tinggal kami. Tidak bisa dideksripsikan, tak tertahankan," kata Abu Hamam dikutip Associated Press.

Keluarga Abu Hamam terpaksa meninggalkan desa mereka di Al-Joura setelah tentara Israel menghancurkan seluruh permukiman saat menyerang pasukan Mesir pada November 1948. Kondisi serupa kini dialami jutaan warga Gaza yang kehilangan tempat tinggal akibat gempuran militer.

Penyintas lainnya, Majida, menyatakan bahwa penderitaan saat ini jauh lebih berat dibandingkan peristiwa Nakba tahun 1948 karena minimnya ruang aman untuk berlindung. Saat ini Majida bersama keluarganya menempati kamp pengungsian di wilayah selatan Khan Yunis.

"Nakba pada '48 saya kira tidak bisa dibandingkan dengan Nakba kami sekarang. Pada '48, mereka bilang orang-orang terusir dan tinggal di tempat lain, dan mereka masih ada di sini sekarang," kata Majida.

Ketidakpastian lokasi pengungsian menjadi beban tersendiri bagi para penduduk yang telah berpindah tempat tinggal hingga puluhan kali. Majida menegaskan bahwa frekuensi pengusiran yang terjadi secara berulang kali memperburuk stabilitas kehidupan warga sipil.

"Namun, Nakba kami sejujurnya lebih parah karena kami terusir berkali-kali. Tidak ada stabilitas," kata Majida.

PBB melaporkan bahwa sekitar 90 persen dari total 2 juta penduduk Gaza kini telah kehilangan tempat tinggal. Para pengungsi terpaksa bertahan hidup dengan mengandalkan bantuan kemanusiaan di kamp-kamp dengan fasilitas sanitasi yang sangat buruk.

Artikel terkait

Rekomendasi