Pengadilan Bolivia Terbitkan Perintah Tangkap Mantan Presiden Evo Morales

Pengadilan Bolivia Terbitkan Perintah Tangkap Mantan Presiden Evo Morales

Hakim Bolivia Carlos Oblitas resmi menyatakan mantan Presiden Evo Morales dalam penghinaan terhadap pengadilan dan menerbitkan kembali surat perintah penangkapan pada Senin, 11 Mei 2026. Keputusan ini diambil setelah Morales tidak menghadiri persidangan kasus dugaan perdagangan manusia terhadap anak di bawah umur di kota Tarija.

Morales dituduh memiliki anak dengan seorang gadis berusia 15 tahun saat ia masih menjabat sebagai presiden, di mana orang tua remaja tersebut diduga memberikan persetujuan demi mendapatkan imbalan politik. Hakim Agung Grover Mita mengonfirmasi bahwa selain perintah penangkapan, pengadilan juga menetapkan larangan bepergian ke luar negeri bagi pemimpin sosialis tersebut.

Pihak Kejaksaan Agung menegaskan bahwa ketidakhadiran Morales tanpa alasan yang jelas memperkuat statusnya sebagai buronan. Sejak akhir tahun 2024, Morales dilaporkan bersembunyi di wilayah Chapare, sebuah benteng perkebunan koka yang dijaga oleh para pendukung fanatik dari kelompok pribumi.

Kuasa hukum Morales, Wilfredo Chavez, telah memberikan sinyal ketidakhadiran kliennya sejak pekan lalu dengan alasan adanya ketidakteraturan prosedur dalam proses pemanggilan hukum.

"Mereka seharusnya diberitahu secara pribadi, dan hanya setelah itu persidangan dimulai; pemberitahuan melalui maklumat tidak tepat," kata Wilfredo Chavez, salah satu pengacaranya, kepada kantor berita AFP.

Argumen tim pembela tersebut dibantah oleh Hakim Mita yang menyatakan bahwa Kode Prosedur Pidana mengizinkan pemberitahuan secara digital maupun fisik. Mita menegaskan pengadilan telah menggunakan berbagai saluran untuk menginformasikan jadwal sidang kepada tergugat.

"Prosedurnya valid; pengadilan telah memilih untuk memberikan pemberitahuan melalui berbagai cara, yang menunjukkan hari dan waktu," tegas Mita, Hakim Agung Bolivia.

Mantan presiden yang menjabat dari tahun 2006 hingga 2019 tersebut membantah keras semua tuduhan dan menganggap kasus ini sebagai bentuk penganiayaan politik terhadap dirinya.

"mereka yang menganiaya saya dan menghukum saya dalam waktu singkat," ujar Evo Morales, Mantan Presiden Bolivia.

Ketegangan meningkat di wilayah Cochabamba seiring dengan ancaman dari para pendukung Morales yang berjanji akan melakukan perlawanan jika aparat keamanan mencoba melakukan penangkapan paksa.

"Mereka berpikir bahwa dengan menangkap Evo Morales, mereka akan berhasil meredam dan mendemobilisasi gerakan tersebut. Mereka sangat keliru," ujar pendukung Dieter Mendoza, kepada radio Kawsachun Coca.

Mendoza juga menyerukan kewaspadaan tinggi bagi penduduk setempat untuk bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan otoritas keamanan di wilayah Tropis Cochabamba.

"Jika mereka menyentuh Evo Morales, ini akan menyebabkan pergolakan ... Akan ada pemberontakan di seluruh Bolivia," kata Dieter Mendoza, pendukung Morales.

Pemerintah di bawah Presiden Rodrigo Paz menuding Morales mencoba melakukan destabilisasi negara melalui rencana aksi pawai ke La Paz yang dijadwalkan mulai Selasa. Sementara itu, Kejaksaan mengklaim telah mengumpulkan lebih dari 170 barang bukti untuk menjerat Morales dalam kasus yang sempat dihentikan namun dibuka kembali pada 2024 ini.

Artikel terkait

Rekomendasi