Tiga periset asal Indonesia diduga melakukan pemalsuan data riset menggunakan kecerdasan buatan (AI) demi mendapatkan bantuan dana perjalanan dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Skandal yang menyeret nama Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti ini menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah diunggah oleh akun Ida Bagus Mandhara Brasika di Threads, seperti dilansir dari Suara.
Para pelaku diduga memanipulasi identitas saat presentasi dengan berganti nama, jilbab, dan tanda pengenal agar tampak sebagai orang berbeda di hadapan peserta konferensi.
Kecurigaan publik menguat setelah materi penelitian global mereka dinilai janggal dan diduga kuat merupakan hasil fabrikasi AI tanpa melibatkan kolaborator lokal serta menggunakan lembaga fiktif bernama AI-BioMedicine Research Group.
Merespons tuduhan tersebut, salah satu anggota tim periset akhirnya memberikan pernyataan terbuka mengenai situasi yang dihadapi oleh kelompoknya.
"Saya Rifaldy, yang mewakili teman-teman tim yang saat ini sedang berkaitan dengan informasi yang tengah viral. Saya sebenarnya berniat untuk meluruskan dan memberikan klarifikasi terkait semua ini setelah adanya rangkaian story dari akun sebelah. Namun sebelum kami sempat memberikan penjelasan, kembali muncul tindakan lanjutan yang justru semakin memperburuk keadaan dan sangat memengaruhi mental kami. Situasi ini juga sudah membawa arus netizen yang menurut saya tidak lagi bijak dalam menyikapi permasalahan," tulis Rifaldy Fajar, Periset.
Rifaldy menambahkan bahwa tekanan psikologis yang dialami timnya semakin memburuk akibat tindakan dari para pengguna media sosial.
"Bahkan, semua akun-akun media sosial milik teman kami, Prihantini, sampai diretas oleh netizen sehingga saat ini sudah tidak dapat digunakan sama sekali. Kami juga tidak mengetahui apabila nantinya akun tersebut disalahgunakan oleh pihak tertentu. Kondisi ini tentu membuat kami sangat terpukul dan tertekan secara mental. Kami menyayangkan karena hingga saat ini belum ada upaya tabayyun atau klarifikasi langsung kepada kami sebelum semuanya disebarkan secara luas ke publik. Kami mohon kepada semua pihak untuk dapat menyikapi persoalan ini dengan lebih bijak, tidak melakukan serangan personal, dan tidak menggiring kebencian yang dapat merugikan pihak lain secara mental maupun privasi," pungkas Rifaldy Fajar, Periset.
Berdasarkan rekam jejak digital, Rifaldy Fajar merupakan alumni Program Studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2014 yang pernah menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi Utama pada 2017.