Periset Indonesia Diduga Palsukan Data Riset AI di Kopenhagen

Periset Indonesia Diduga Palsukan Data Riset AI di Kopenhagen

Sejumlah periset asal Indonesia diduga melakukan aksi pemalsuan data penelitian berbasis kecerdasan buatan atau AI dalam konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 2026. Aksi manipulasi terorganisir tersebut memicu kritik tajam dari publik setelah diungkap oleh saksi mata di media sosial.

Skandal akademik ini pertama kali mencuat melalui utas yang dibagikan ulang oleh akun X @ardisatriawan, dilansir dari Suara. Tiga periset yang dituduh melakukan kecurangan tersebut teridentifikasi atas nama Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.

Dugaan manipulasi mencakup fabrikasi total pada data penelitian global, penggunaan identitas palsu saat presentasi, hingga pencatutan lembaga fiktif bernama AI-BioMedicine Research Group. Penyelenggaraan konferensi ilmiah ISPPD 2026 yang fokus pada bidang Pneumonia menjadi tempat terjadinya insiden tersebut.

Tuduhan pemalsuan ini dibongkar oleh pemilik akun Threads Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun @mandharabrasika yang hadir dalam acara tersebut.

"Merusak nama Indonesia di mata dunia. Skandal pemalsuan di konferensi internasional. Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia diseluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis @mandharabrasika.

Pihak pelapor mengonfirmasi bahwa seluruh materi tulisan serta gambar yang ditampilkan merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan tanpa adanya izin etik.

"Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisan juga," ungkap Mandhara.

Kejanggalan riset semakin terlihat karena cakupan lokasi penelitian yang sangat luas di berbagai negara tidak melibatkan satu pun kolaborator lokal setempat.

"Lokasi riset tidak masuk akal: Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India utara. Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik. Bahkan afiliasinya: Al-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia tidak ditemukan," tulis Mandhara.

Motif utama dari tindakan manipulasi identitas dan data ini diduga kuat demi mengincar Travel Grant atau dana bantuan perjalanan dari panitia. Akun X @ardisatriawan kemudian memberikan analisis mengenai penyebab abstrak fiktif tersebut bisa lolos dari proses kurasi panitia internasional.

"Kenapa bisa lolos? Saya highlight 3 alasan. Karena yang disubmit buat diseleksi itu HANYA ABSTRAK. Ya paling 200-300 kata aja. Bukan riset keseluruhannya. Karena BLIND REVIEW. Jadi reviewer Gak tau siapa yang nulis abstrak ini. Semuanya. Tidak ada nama-nama dan instansi. Niatnya biar OBJEKTIF. Dan mereka juga asumsi peniliti yang submit itu semuanya punya INTEGRITAS. Tapi juga jadi loophole ternyata. Ya karena paper tim ini abstraknya WAH banget, datanya dari mancanegara dan pakai metode terbaru yang WAH. Jadi terlihat outstanding dibanding abstrak lain," cuit @ardisatriawan.

Unggahan mengenai skandal ini mendapat perhatian besar dari netizen di media sosial dengan mendulang ribuan sebaran ulang serta komentar negatif. Pemilik akun @re**p**rlily menyindir tindakan oknum periset tersebut yang dianggap hanya ingin menikmati fasilitas liburan gratis ke luar negeri.

"Ini mah mimpiku pas demam. Jalan-jalan keluar negeri sambil dianggap pintar," tulis @re**p**rlily.

Kekhawatiran mengenai dampak buruk skandal ini terhadap reputasi komunitas akademik Indonesia lainnya turut disampaikan oleh netizen.

"Kalau terbukti bener-bener keterlaluan. Bayangkan gimana efeknya sama periset lain yang jujur pasti bakalan dicurigai," pendapat @b**an_o*dal.

Sistem penilaian panitia yang menggunakan metode penelaahan tanpa identitas dinilai menjadi celah yang dieksploitasi oleh para pelaku.

"Bukan konferensinya yang abal. Blind review memang by design gak bisa cek identitas — niatnya objektif. Yang dieksploitasi justru celah kepercayaan itu," tambah @g**i*ya.

Artikel terkait

Rekomendasi