Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memastikan kesiapan fasilitas di Arafah dan Mina serta mengimbau jemaah untuk membatasi aktivitas fisik menjelang puncak ibadah haji pada pertengahan Mei 2026. Langkah ini diambil guna mengantisipasi cuaca panas ekstrem yang berisiko menyebabkan dehidrasi dan sengatan panas bagi para jemaah.
Dirjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Harun Al Rasyid, melakukan tinjauan langsung ke lokasi untuk mengecek tenda-tenda yang akan digunakan pada 9 Dzulhijah mendatang. Harun menjelaskan bahwa proses pengerjaan fasilitas pendukung sudah mendekati tahap akhir agar jemaah dapat beribadah dengan nyaman.
"Memastikan detail kapasitas tenda dan jumlah jemaahnya," kata Harun Al Rasyid, Dirjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
Ia menambahkan bahwa persiapan secara keseluruhan berjalan sesuai jadwal dan hanya menyisakan penyelesaian akhir pada beberapa titik. Berdasarkan pantauan di lokasi, tenda-tenda di Arafah telah dilengkapi dengan mesin pendingin ruangan dan kasur yang tertata rapi.
"Perlu finishing aja kira-kira 10 persen. InsyaAllah akhir pekan ini sudah ready semuanya," ucap Harun Al Rasyid.
Di sisi lain, Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaf menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik sebelum memasuki fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Pihak kementerian meminta jemaah, terutama kelompok lansia dan risiko tinggi, untuk tidak memaksakan diri melakukan ibadah sunnah yang menguras tenaga di bawah terik matahari.
"Kami mengimbau kepada jemaah untuk membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama pada saat siang hari saat suhu udara sangat tinggi," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kemenhaj.
Maria mengingatkan bahwa mobilitas saat puncak haji akan sangat tinggi dan memerlukan ketahanan tubuh yang baik. Oleh karena itu, jemaah disarankan untuk mulai membiasakan aktivitas fisik ringan secara terukur.
"Pastikan bahwa stamina tetap terjaga karena rangkaian ibadah puncak haji memerlukan kesiapan fisik yang optimal," ucap Maria Assegaf.
Kemenhaj juga menitikberatkan pada pemenuhan nutrisi dan hidrasi yang cukup selama berada di Tanah Suci. Jemaah diharapkan lebih disiplin dalam mengatur pola makan dan waktu istirahat agar tidak tumbang sebelum rangkaian wajib haji selesai.
"Utamakan ibadah wajib, perbanyak istirahat, konsumsi makanan yang teratur tentunya, dan penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan cukup minum air putih," ujar Maria Assegaf.
Peringatan mengenai risiko kesehatan juga disampaikan oleh para ahli medis terkait ancaman dehidrasi di tengah suhu ekstrem. Maria menegaskan bahwa ibadah haji menuntut kesiapan mental sekaligus ketahanan fisik yang prima karena adanya jarak tempuh berjalan kaki yang cukup jauh.
"Ibadah haji bukan sekadar ibadah ritual saja, tetapi juga ibadah yang harus dilakukan dengan fisik yang prima serta membutuhkan waktu tempuh dengan berjalan kaki yang tidak sedikit," tutur Maria Assegaf.
Pihak kementerian menjamin petugas kesehatan akan terus melakukan pemantauan aktif di hotel maupun klinik kesehatan untuk mendampingi jemaah. Maria meminta jemaah segera melapor jika merasakan gejala awal gangguan kesehatan seperti pusing atau sesak napas.
"Khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, serta jemaah dengan penyakit penyerta atau risiko tinggi, kami meminta agar selalu berkoordinasi dengan petugas kesehatan, ketua regu, ketua rombongan, maupun petugas sektor," tutur Maria Assegaf.
Petugas juga telah menyiapkan sistem pelaporan yang cepat agar setiap keluhan jemaah bisa segera ditangani oleh tim medis rujukan di Arab Saudi. Maria berharap jemaah dapat mengelola waktu mereka dengan sangat bijak selama beberapa hari ke depan.
"Gunakan waktu di Tanah Suci ini secara bijak agar stamina tetap terjaga menjelang Armuzna atau puncak haji," pungkas Maria Assegaf.
Anggota Komisi VIII DPR, Dini Rahmania, turut memberikan dorongan agar jemaah patuh terhadap aturan yang ditetapkan petugas di lapangan. Dini menekankan bahwa keselamatan nyawa harus menjadi prioritas utama di atas keinginan mengejar ibadah tambahan.
"Jemaah juga harus mematuhi arahan petugas kesehatan dan petugas haji demi keselamatan bersama. Jangan memaksakan diri apabila kondisi tubuh kurang fit, karena kesehatan dan keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama agar ibadah berjalan lancar dan khusyuk," ujar Dini Rahmania, Anggota Komisi VIII DPR.
Dini juga mengimbau agar jemaah senantiasa membawa pelindung diri dan mengonsumsi vitamin tambahan. Ia menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap gejala dehidrasi yang sering kali tidak disadari oleh jemaah hingga kondisinya memburuk.
"(Dengan cara) memperbanyak konsumsi air putih dan vitamin, serta menghindari aktivitas berlebihan di bawah terik matahari," jelas Dini Rahmania.
Pakar kesehatan gizi dari Universitas Hasanuddin, dr. Yasmin Syauki, memberikan tips praktis dalam mendeteksi dehidrasi melalui perubahan warna urine. Menurutnya, jemaah harus segera minum air jika urine mulai berwarna kuning pekat.
"Tanda-tanda dehidrasi itu sebenarnya lemas. Namun, sebelum sampai pada tahap lemas, kita bisa melihat warna kencing kita. Ketika warnanya sudah kuning pekat dan bukan lagi kuning jernih, itu tandanya tubuh sudah mengalami dehidrasi," ujar Yasmin Syauki, Dokter Spesialis Gizi Klinik.
| Kondisi | Gejala yang Muncul |
|---|---|
| Dehidrasi Awal | Warna urine kuning pekat (tidak jernih). |
| Dehidrasi Lanjutan | Tubuh lemas, rasa limbung, nyeri kepala, mual, dan pandangan buram. |
| Heatstroke | Sesak napas mendadak, pusing hebat, dan tubuh tidak mampu melakukan kompensasi suhu. |
Data dari Kemenhaj RI menunjukkan suhu udara di Makkah dan Madinah pada Mei 2026 ini berada pada kategori ekstrem. Petugas kesehatan mengimbau jemaah untuk minum setidaknya 150 ml air per jam dan menggunakan alat pelindung seperti payung berwarna terang saat berada di luar ruangan.