Pesawat pengisi bahan bakar militer Amerika Serikat, Boeing KC-135 Stratotanker, dilaporkan hilang dari sistem pelacakan radar di wilayah Selat Hormuz pada Selasa, 5 Mei 2026. Insiden ini bermula setelah pesawat tersebut mengirimkan kode bahaya internasional 7700 saat terbang di atas Teluk Persia dekat perbatasan Iran.
Data pelacakan penerbangan dari Flightradar24 dan The Deep Dive menunjukkan bahwa pesawat lepas landas dari Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA). Sebelum sinyalnya terputus, pesawat tersebut sempat terbang dalam pola melingkar, melakukan manuver penurunan ketinggian, dan mengubah arah menuju wilayah udara Qatar.
Hingga saat ini, penyebab pasti keadaan darurat tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas terkait. Meski demikian, dua helikopter utilitas ringan H125 terpantau berangkat dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebagai respons terhadap sinyal bahaya tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Times of India.
Insiden ini terjadi di tengah pelaksanaan Operasi Project Freedom yang diluncurkan oleh Presiden Donald Trump untuk mengawal kapal-kapal komersial. Sejak akhir Februari, wilayah strategis tersebut berada di bawah kendali Iran yang menyebabkan penurunan drastis lalu lintas maritim komersial hingga lebih dari 90 persen.
Kantor berita Fars dari Iran mengonfirmasi hilangnya pesawat tersebut berdasarkan data publik, namun belum ada pernyataan mengenai keterlibatan pihak Iran. Sementara itu, pakar teknis mendeteksi adanya aktivitas gangguan GPS (jamming) dan pemalsuan sinyal (spoofing) di wilayah tersebut saat insiden terjadi.
"7700" ujar pihak Reuters yang merujuk pada kode darurat penerbangan internasional yang dikirimkan pesawat tersebut.
Berdasarkan data Reuters, kelompok perlawanan di Irak sebelumnya pernah mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat serupa pada bulan Maret lalu.
"in defence of our country's sovereignty and airspace," kata kelompok tersebut menurut laporan Reuters.
Di sisi lain, Pemerintah Iran memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Abu Dhabi terkait risiko eskalasi militer di kawasan Teluk yang kian memanas.
"Project Deadlock" kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Araghchi kemudian memperingatkan agar pihak asing tidak terseret kembali ke dalam situasi yang berbahaya di wilayah tersebut.
"dragged back into quagmire," ujar Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) belum memberikan pernyataan resmi mengenai status terakhir awak pesawat maupun kondisi fisik unit KC-135 tersebut. Armada ini merupakan bagian vital dari operasi Angkatan Udara AS yang berfungsi sebagai stasiun pengisian bahan bakar di udara untuk mendukung jet tempur dan pesawat pengebom.