Petani Matsuyama Jepang Beralih Tanam Alpukat Akibat Krisis Iklim

Petani Matsuyama Jepang Beralih Tanam Alpukat Akibat Krisis Iklim

Para petani di Kota Matsuyama, Prefektur Ehime, Jepang, mulai meninggalkan budidaya jeruk dan beralih ke tanaman alpukat sebagai strategi adaptasi menghadapi pemanasan global. Perubahan pola tanam ini dipicu oleh kenaikan suhu ekstrem yang mengancam identitas wilayah tersebut sebagai pusat jeruk tradisional.

Data yang dilansir dari Lestari menunjukkan lonjakan produksi alpukat di Matsuyama mencapai lebih dari 12 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Produksi yang semula hanya 600 kilogram pada 2015 meroket hingga menyentuh angka 7.300 kilogram pada 2024.

Fuminori Arita menjadi salah satu pionir yang telah beralih dari varietas jeruk 'iyokan' ke alpukat selama sepuluh tahun terakhir. Ia mengaku menikmati proses menanam buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi tersebut meski perawatannya cukup menantang.

"Mengingat tantangan budidaya alpukat, kebahagiaan atas keberhasilan sangatlah besar," tutur Arita, yang memulai dengan bibit yang diperolehnya dari pemerintah kota Matsuyama.

Arita kini berhasil memasarkan produknya dengan harga mencapai 5.000 yen atau setara Rp551.000 per kilogram. Keberhasilannya menjadi simbol bagi upaya modernisasi pertanian di wilayah barat Jepang tersebut.

Langkah serupa diambil oleh Junichiro Nishihara, petani berusia 62 tahun yang mulai memperluas lahan alpukat miliknya. Ia mengungkapkan bahwa terik matahari selama beberapa tahun terakhir telah merusak warna kulit jeruk miliknya menjadi cokelat.

“Saya memang memiliki ikatan emosional sebagai petani jeruk, tetapi saya tidak akan bisa mencari nafkah jika saya tidak beralih ke tanaman yang beradaptasi dengan iklim,” ucapnya, dilansir dari Asahi.

Nishihara menilai budidaya alpukat lebih efisien karena membutuhkan pengendalian hama yang lebih sedikit dibandingkan jeruk. Ia bahkan berencana menghentikan seluruh produksi jeruk untuk fokus pada alpukat dan pisang.

Pejabat lembaga bimbingan pertanian lokal, Tatsumi Shiba, memproyeksikan bahwa budidaya akan semakin mudah seiring meningkatnya suhu minimum di wilayah tersebut.

"Kami berharap dapat meningkatkan budidaya," tutur Shiba, seraya menyatakan harapan bahwa kota ini akan menjadi identik dengan produksi alpukat.

Berdasarkan laporan Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional (NARO), wilayah yang sebelumnya terlalu hangat bagi jeruk kini justru sangat ideal bagi alpukat. Luas lahan yang cocok untuk tanaman ini diprediksi meningkat 2,5 kali lipat di seluruh Jepang pada pertengahan abad ini.

Ahli meteorologi pertanian NARO, Toshihiko Sugiura, menjelaskan bahwa meskipun teknik rekayasa seperti peneduh dan kontrol kelembapan bisa mempertahankan jeruk, biaya operasionalnya akan menjadi jauh lebih mahal.

“Bahkan, di daerah penghasil jeruk yang sudah tidak cocok lagi untuk budidaya jeruk, Anda masih dapat terus menanam tanaman tersebut jika menggunakan naungan, pengendalian kelembaban, dan teknik serta kecerdikan budidaya lainnya, seperti memangkas buah di bagian atas dan luar pohon yang rentan terhadap suhu tinggi,” ujar Sugiura.

Sugiura menegaskan bahwa alpukat merupakan pilihan yang sangat layak secara ekonomi karena permintaan konsumen yang tinggi dan kebutuhan tenaga kerja yang lebih minim.

"Beralih ke alpukat adalah pilihan yang layak, meskipun masih ada sejumlah tantangan. Menanam alpukat membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, dan permintaan konsumen terhadapnya sangat tinggi," tutur Sugiura, yang bekerja di Institut Ilmu Pohon Buah dan Teh NARO.

Guna mendukung transisi ini, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang telah menyiapkan program subsidi untuk mempromosikan tanaman tahan suhu tinggi. Program ini direncanakan akan mulai berjalan secara masif pada tahun fiskal 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi