Kepolisian Daerah Jawa Tengah mengungkap jaringan sindikat penipuan investasi crypto internasional bermodus love scamming yang diduga melibatkan Fabiola Elizabeth Agnes pada Selasa, 2 Juni 2026. Aksi kejahatan yang berjalan sejak Juli 2025 hingga Mei 2026 ini tercatat telah merugikan 133 orang dengan total kerugian mencapai Rp41 miliar.
Jaringan ini menyasar warga mancanegara dengan memanfaatkan identitas palsu dan foto-foto menarik di media sosial untuk menjerat korban. Anggota tim pemasaran bergerak lebih awal untuk menyaring calon korban sebelum melibatkan Fabiola dalam berkomunikasi langsung.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Kombes Pol Dwi Subagio melalui Kasubdit Siber AKBP Himawan menjelaskan bahwa keterlibatan mantan istri Reza Smash tersebut bertujuan untuk meyakinkan target yang mulai ragu.
"Jadi marketing itu untuk menjerat korban. Mereka akan menyortir calon korban yang butuh diyakinkan, maka F yang akan maju melayani video call. Itu supaya korban berinvestasi," kata Himawan.
Pemilihan Fabiola dalam sindikat ini didasari oleh latar belakang profesinya sebagai model yang dinilai cakap dalam membangun komunikasi bisnis secara personal.
"Jadi calon korban dibuat dekat dulu secara personal, baru mereka meminta transfer dana secara bertahap," ujar Himawan.
Para korban yang telah terpikat kemudian diarahkan untuk menyetorkan dana mereka ke platform trading crypto tertentu. Namun, platform investasi tersebut merupakan situs web palsu yang sistemnya telah dimanipulasi oleh tim IT dari sindikat tersebut.
Data kepolisian menunjukkan bahwa sindikat ini telah menargetkan sekitar 5.000 orang selama beroperasi. Atas maraknya kasus ini, pihak kepolisian meminta masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tawaran investasi digital.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam skema investasi serupa, terutama yang diawali dengan pendekatan personal di media sosial.
"Masyarakat diharapkan tak mudah mempercayai ajakan berinvestasi, terutama dari orang yang baru dikenal melalui media sosial," kata Artanto.