Polda Metro Jaya menyelidiki laporan terhadap sutradara Dandhy Dwi Laksono atas dugaan pelanggaran perlindungan data pribadi dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Kasus ini mencuat setelah Yasinta Moiwend, yang akrab disapa Mama Sinta, melayangkan laporan resmi ke kepolisian, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Laporan polisi tersebut teregister dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya pada tanggal 29 Mei 2026. Selain Dandhy Laksono, laporan tersebut juga menyeret nama Ketua LBH Merauke Johnny Teddy Wakum terkait penayangan film yang memuat identitas pelapor.
Melalui keterangan tertulis di akun Instagram pribadinya pada Selasa (2/6), Dandhy Laksono memberikan penjelasan mengenai tujuan awal pembuatan film tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh tim produksi selalu datang dengan identitas yang jelas selama proses dokumentasi.
"Saat Mama Yasinta muncul ke publik membela tanah ulayatnya, kami yang ikut mendukungnya, menampakkan identitas jelas," tulis Dandhy Laksono, Sutradara Film Pesta Babi.
Sutradara sekaligus pemilik rumah produksi WatchDoc ini kemudian membandingkan transparansi timnya dengan pihak-pihak yang membawa kasus ini ke ranah hukum.
"Punya nama, punya wajah, punya lembaga. Kini, Mama Yasinta dimunculkan ke publik oleh mereka yang malu-malu menunjukkan identitasnya. Tanpa nama, tanpa wajah," sambung Dandhy Laksono, Sutradara Film Pesta Babi.
Lebih lanjut, ia mencurigai adanya motif tertentu di balik pelaporan dirinya ke pihak berwajib. Dandhy menilai perkara ini sengaja digulirkan untuk mengalihkan perhatian publik dari pesan utama yang ada di dalam karya dokumenternya.
"Satu-satunya yang tampak jelas adalah siasat agar kita pelan-pelan kehilangan fokus pada persoalan kolonialisme di Papua," ucap Dandhy Laksono, Sutradara Film Pesta Babi.
Di sisi lain, pihak pelapor menyatakan alasan mendasar di balik keputusan menempuh jalur hukum. Mama Sinta menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan izin kepada pihak pembuat film untuk menayangkan wajahnya dalam dokumenter Pesta Babi.
"Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka," terang Mama Sinta, Pelapor.
Dirinya mengaku sangat kecewa karena rekaman visual yang menampilkan sosoknya telah disebarluaskan ke berbagai tempat tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu.
"Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Jadi, itu saja yang saya sampaikan," pungkas Mama Sinta, Pelapor.