Aparat kepolisian menangkap 26 orang di Palermo pada Selasa (20/5/2026) atas dugaan keterlibatan dalam jaringan peredaran narkoba yang dikendalikan oleh kelompok mafia lokal. Operasi gabungan ini menyasar klan Santa Maria del Gesu dan Santa Rosalia.
Dilansir dari tempostretto.it, sebanyak 21 tersangka kini ditahan di penjara, sementara lima orang lainnya menjalani tahanan rumah. Operasi berskala besar ini melibatkan satuan Squadra Mobile Palermo dan Raggruppamento Operativo Speciale (ROS) Carabinieri.
Penyelidikan intensif ini berjalan di bawah koordinasi Jaksa Penuntut Umum Pembantu Vito Di Giorgio bersama Kepala Direktorat Anti-Mafia Distrik Maurizio De Lucia. Pihak berwenang berhasil mengidentifikasi struktur hierarki baru dari dua kelompok yang menguasai wilayah Villagrazia, Santa Maria di Gesu, dan Villaggio Santa Rosalia.
Pasokan narkotika jenis kokain dan obat-obatan terlarang lainnya diketahui berasal dari wilayah Campania dan Calabria sebelum diedarkan di pasar Palermo. Jaringan ini melibatkan pemasok lintas kota, termasuk seorang warga Albania yang tinggal di Roma dan seorang gembong besar dari Calabria.
Penyidik mengungkapkan bahwa pengendalian bisnis haram ini berpusat pada sosok Gabriele Pedalino yang mengendalikan operasi dari balik jeruji besi. Pedalino, yang merupakan keponakan dari bos mafia Salvatore Profeta, sedang menjalani hukuman penjara inkrah akibat kasus pembunuhan tahun 2015 dan perannya di klan Santa Maria del Gesu.
Aktivitas komunikasi dari dalam lembaga pemasyarakatan tersebut dilakukan menggunakan beberapa telepon genggam penyelundupan. Pedalino menggerakkan sejumlah kaki tangan kepercayaannya di lapangan, meliputi Antonino La Mattina, Mario Mirko Brancato, Vincenzo Toscano, Giuseppe Orlando, dan Giuseppe Foti.
Distribusi kokain di Palermo kemudian disalurkan melalui jaringan pengedar, dengan nama Giorgio Sangiorgio dan Francesco Walter Reitano yang muncul dalam catatan kepolisian. Kelompok terpisah lain dipimpin oleh Giuseppe Bronte, yang tetap berkomunikasi aktif dengan Pedalino meskipun Bronte berstatus tahanan rumah.
Dalam rekaman penyadapan yang dilakukan oleh tim penyidik, para tersangka kerap menyamarkan transaksi mereka dengan sandi khusus.
"007" kata para tersangka dalam rekaman penyadapan.
Selain kode angka tersebut, mereka juga kerap menggunakan istilah samaran lain untuk merujuk pada takaran dosis narkoba yang akan dijual.
"palline" ujar para tersangka dalam percakapan tersebut.
Meski sering menggunakan kata sandi, kepolisian menjelaskan bahwa para pelaku juga berulang kali menyebut kata kokain secara transparan dalam komunikasi mereka. Kasus ini kini dalam penanganan lebih lanjut oleh kepolisian serta otoritas anti-mafia setempat.