Polisi Selidiki Isu Begal Model ADV di Kebon Jeruk

Polisi Selidiki Isu Begal Model ADV di Kebon Jeruk

Aparat kepolisian menyelidiki kebenaran informasi mengenai dugaan pembegalan sadis yang menimpa seorang model wanita berinisial ADV di sekitar pinggir Jalan Tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kabar tersebut menjadi viral setelah beredar di media sosial pada Senin (18/5/2026), meski sejauh ini belum ada bukti konkret atau laporan resmi dari korban.

Penyelidikan intensif dilakukan oleh jajaran kepolisian dengan memeriksa sejumlah lokasi serta rumah sakit yang diduga menjadi tempat perawatan korban, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Langkah tersebut diambil guna merespons keresahan masyarakat akibat meluasnya narasi pembegalan tersebut.

Petugas sempat mendatangi Rumah Sakit Sumber Waras di Grogol Petamburan yang disebut sebagai tempat evakuasi korban yang mengalami luka bacok. Namun, pihak medis menegaskan tidak ada pasien masuk dengan identitas atau kondisi cedera seperti dalam unggahan.

Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Nur Aqsha menjelaskan bahwa koordinasi telah dilakukan bersama Polsek Palmerah dan Polsek Grogol Petamburan guna menyisir area pinggir tol yang sangat luas.

"Kami semua kemarin mengecek ke Rumah Sakit Sumber Waras, konfirmasi langsung ke IGD maupun pihak rumah sakitnya, itu tidak ditemukan ada yang atas nama yang bersangkutan datang ke sana, ataupun pasien yang menderita luka bacokan apa segala macam, tidak ditemukan," ucap Aqsha kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa penyelidikan awal belum menunjukkan adanya kejelasan mengenai identitas korban maupun keabsahan kronologi yang beredar.

"Ya itu kita kan belum tahu ini korbannya ini apa bener dia atau siapa, kan gitu loh. Kan kita harus pastiin kan gitu informasinya valid atau tidak. Belum pasti, makanya kita masih lidik dulu," ungkap Aqsha.

Tim siber Polres Metro Jakarta Barat kini turut dilibatkan guna melacak akun media sosial yang pertama kali menyebarkan informasi tersebut ke publik.

"Yah, masih diselidiki karena kami belum ketemu sumber jelasnya, narasumber yang A1-nya siapa yang upload pertama dan kronologinya," jelas Aqsha.

Kendati belum menerima laporan resmi dari pihak yang dirugikan, kepolisian berkomitmen untuk menuntaskan penyelidikan demi memberikan kepastian hukum dan keamanan bagi warga.

"(Tidak ada laporan), tapi tetap ya kita harus menjawab keresahan masyarakat kan, karena kan ini sudah ramai beredar kan. Betul atau tidaknya, kita harus jawab," tutur Aqsha.

Pengecekan data pasien juga dilakukan oleh tingkat pimpinan di Polda Metro Jaya guna memastikan seluruh fasilitas kesehatan di sekitar area kejadian telah diperiksa.

"Dari hasil pengecekan sementara, tidak ditemukan data pasien atas nama yang disebutkan dalam unggahan tersebut dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Saat ini informasi tersebut masih dalam tahap verifikasi lebih lanjut, sehingga belum dapat dipastikan kebenarannya," jelas Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol.

Isu keamanan di ruang publik Jakarta Barat ini memicu tanggapan dari kalangan akademisi yang menilai situasi tersebut mencerminkan kondisi riil rasa aman masyarakat.

"Kalau dari perspektif saya ya tentu kondisi ini adalah bagian di dalam kita melihat bahwa ruang publik kita sudah tidak aman," ujar A.B. Widyanta, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM).

Analisis mengenai metode kejahatan jalanan sejenis turut dipaparkan oleh ahli hukum untuk memberikan gambaran mengenai pola operandi para pelaku kriminal di malam hari.

"Begal dan jambret itu mengandalkan kecepatan, ketidakterdugaan dan penggentaran. Itu tiga resep yang memang susah dilawan oleh orang yang jalan sendirian, di jalan yang sepi, malam hari," ucap Adrianus Meliala, Kriminolog Universitas Indonesia.

Langkah pencegahan berbasis wilayah dan pemetaan titik rawan menjadi salah satu rekomendasi utama yang didorong oleh pengamat kepolisian demi mengantisipasi kasus serupa.

"Pemetaan itu sebenarnya hal yang mendasar agar masyarakat ini mengetahui titik-titik di mana saja yang rawan... Yang selama ini terjadi, seharusnya itu ada (pemetaan). Namun, masalahnya selama ini ada tetapi tidak di-update dan tidak berkelanjutan," ucap Josias Simon, Kriminolog Universitas Indonesia lainnya.

Artikel terkait

Rekomendasi