Kabar mengenai keberadaan sosok pocong membawa senjata tajam jenis golok sempat memicu keresahan besar di tengah masyarakat wilayah Ciputat, Tangerang Selatan. Isu mistis tersebut menyebar luas secara cepat melalui berbagai platform media sosial.
Menanggapi situasi ini, aparat kepolisian dari Polsek Ciputat Timur langsung bergerak memastikan bahwa informasi yang beredar tersebut sepenuhnya tidak benar atau hoaks, seperti dikutip dari Megapolitan.
Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq menjelaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak menemukan bukti konkret mengenai adanya orang berkostum hantu yang membawa senjata tajam di lingkungan warga.
“Sampai sejauh ini belum ada indikasi laporan warga mereka membawa sajam,” kata Bambang saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (21/5/2026).
Pihak kepolisian menduga kuat bahwa figur yang sempat memicu kepanikan tersebut sebenarnya merupakan seorang pengamen biasa. Pengamen itu menggunakan kostum pocong saat berkeliling di wilayah permukiman warga pada waktu malam hari.
Informasi awal tersebut kemudian berkembang secara liar setelah ditambah-tambahkan narasi yang belum terbukti kebenarannya, termasuk tuduhan membawa senjata tajam.
“Jadi hanya isu yang dilempar oleh orang yang tidak bertanggung jawab, diterima oleh masyarakat dan dilebih-lebihkan oleh hal-hal yang membuat gangguan kamtibmas seperti bawa sajam dan lain-lain,” jelas dia.
Aparat penegak hukum juga meminta warga agar lebih selektif dalam menyaring informasi digital. Ada kemungkinan konten menakutkan yang beredar merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Demi menjaga ketertiban, petugas terus mengintensifkan patroli serta razia malam di sekitar Ciputat Timur.
Melihat fenomena ini, Sosiolog Rakhmat Hidayat memberikan pandangan bahwa peristiwa serupa akan terus terulang. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia memiliki keterikatan budaya yang kuat terhadap narasi supernatural dalam ingatan kolektif mereka.
“Dalam perspektif sosiologi saya melihatnya bahwa isu seperti ini akan terus berulang karena masyarakat Indonesia masih memiliki kedekatan budaya dengan narasi supernatural,” kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com melalui Whatsapp, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, sosok legendaris seperti pocong, kuntilanak, maupun genderuwo bukan sekadar dianggap makhluk halus biasa. Karakter tersebut telah bertransformasi menjadi simbol budaya yang diwariskan secara turun-temurun lintas generasi.
Representasi mistis ini telah lama mengakar dalam kehidupan sehari-hari lewat dongeng rakyat, cerita di lingkungan keluarga, tontonan layar lebar, hingga konten di media digital.
Faktor inilah yang memicu ingatan bawah sadar masyarakat untuk langsung merasa takut ketika melihat seseorang mengenakan kostum serupa di tempat gelap.
“Sosok seperti pocong itu bukan sekadar hantu tetapi simbol budaya yang sudah lama diwariskan melalui cerita rakyat, pengalaman keluarga, film horor hingga media digital,” ujar dia.
Situasi psikologis ini disebut sebagai fenomena ketakutan kolektif atau collective fear. Rasa cemas masif muncul bukan karena ada fakta ancaman nyata, melainkan karena simbol tersebut sudah kadung memiliki konotasi menyeramkan.
“Nah akibatnya ketika ada seseorang memakai kostum pocong di malam hari masyarakat langsung menghubungkannya dengan rasa takut yang sudah tertanam sebelumnya,” kata Rakhmat.
Dampak Budaya Viralitas di Media Sosial
Selain faktor tradisi mistis, perkembangan teknologi digital dinilai mempercepat eskalasi kepanikan publik. Informasi berskala kecil yang belum terverifikasi bisa langsung membesar karena terus direkam, diunggah ulang, dan ditambahi bumbu cerita.
“Awalnya hanya ada pengamen berkostum pocong, lalu berkembang menjadi isu pocong bawa golok, teror pocong, bahkan dikaitkan dengan kriminalitas atau hal gaib,” ucap dia.
Rakhmat menambahkan bahwa pola hidup publik modern saat ini sangat dipengaruhi oleh budaya viralitas. Suatu kabar sering kali dianggap penting dan sahih hanya karena sedang ramai diperbincangkan, bukan karena validitas datanya.
“Video pendek yang menampilkan suasana gelap, teriakan warga, atau narasi menakutkan lebih mudah viral karena memicu emosi,” ujar dia.