Sebanyak delapan ekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) berhasil teridentifikasi melalui kamera pengintai di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Temuan ini dilaporkan pada Rabu (6/5/2026) sebagai hasil dari program Java Wide Leopard Survey (JWLS) tahap pertama yang berlangsung hingga pertengahan 2025.
Hasil survei yang dilansir dari Detik Travel tersebut merinci struktur populasi yang terdiri dari satu ekor jantan, enam betina, dan satu anakan. Pemantauan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, Balai Besar TNBTS, Yayasan SINTAS Indonesia, serta dukungan dari sektor swasta.
Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, menjelaskan bahwa ekspansi aktivitas manusia selama beberapa dekade terakhir telah mengubah bentang alam yang menjadi habitat asli satwa ini. Kondisi tersebut memaksa macan tutul Jawa keluar dari wilayah jelajah alaminya dan terkadang mendekati pemukiman warga.
"Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang. Jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu adalah solusi yang paling realistis untuk tetap hidup berdampingan," kata Hariyo, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia.
Hariyo menekankan pentingnya akurasi data populasi dan konektivitas habitat agar upaya konservasi tidak salah sasaran di masa depan. Program JWLS juga mencakup pelatihan teknis bagi puluhan peserta untuk memperkuat kapasitas pemantauan serta manajemen analisis data kamera pengintai.
"Sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia," ujar Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA.
Warga lokal di sekitar Ranu Pani menilai keberadaan macan tutul di dekat wilayah tinggal mereka sebagai fenomena yang dipengaruhi oleh integritas ekosistem. Mereka menganggap kemunculan satwa predator ini merupakan naluri liar yang dipicu oleh gangguan pada habitat asli mereka.
"Macan tutul itu satwa liar, jadi nalurinya memang begitu, apalagi kalau dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke dekat kampung pasti ada sebabnya. Bisa jadi ekosistemnya sudah terganggu," kata Randi, warga Ranu Pani.
Randi menambahkan bahwa masyarakat setempat lebih memilih solusi menjaga kelestarian habitat daripada melakukan tindakan pengusiran terhadap macan tutul. Fokus utama adalah menciptakan kondisi kawasan yang aman bagi satwa agar tidak terjadi konflik dengan manusia.
"Kalau tempatnya aman, mereka tidak akan turun ke warga. Jadi sebenarnya bukan soal mengusir, tapi bagaimana kita sama-sama menjaga supaya manusia dan macan tutul bisa tetap hidup berdampingan," ujar Randi.
Petugas Balai Besar TNBTS, Tuangkat, menyatakan bahwa kearifan lokal masyarakat setempat menempatkan macan tutul sebagai bagian penting dari sistem kehidupan yang patut dihormati. Menjaga kelestarian hutan dianggap sebagai kunci utama agar satwa tersebut tetap berada di habitatnya.
"Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, kalau hutan tetap lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman," kata Tuangkat, petugas Balai Besar TNBTS.
Upaya pelestarian ini terus berlanjut melalui survei tahap kedua pada tahun 2026 guna melengkapi data populasi macan tutul Jawa secara menyeluruh di wilayah TNBTS. Pemantauan dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip keseimbangan antara kehidupan masyarakat dan kelestarian alam.
"Kuncinya sederhana: jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti yang sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu," ujar Tuangkat.