Fenomena El Nino Berpotensi Pecahkan Rekor Suhu Global Tahun 2026

Fenomena El Nino Berpotensi Pecahkan Rekor Suhu Global Tahun 2026

Model musim memprediksi kemunculan fenomena iklim El Nino yang berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah guna memicu cuaca ekstrem global mulai pertengahan tahun ini. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di ekuator Samudra Pasifik ini diprediksi berdampak signifikan pada suhu dan pola curah hujan dunia.

Kekuatan fenomena ini diperkirakan akan memberikan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah meteorologi modern. Prediksi ini didasarkan pada pergerakan panas di bawah permukaan Pasifik yang mulai naik ke permukaan, menandai fase awal perkembangan El Nino sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Kepala Meteorologi dan Spesialis Iklim WFLA-TV, Jeff Berardelli, memberikan peringatan mengenai skala dampak yang mungkin muncul dari anomali cuaca tersebut.

"Saya rasa kita akan menyaksikan peristiwa cuaca yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern," ujar Jeff Berardelli, Chief Meteorologist and Climate Specialist WFLA-TV.

Laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengonfirmasi bahwa suhu permukaan laut meningkat pesat dengan intensifikasi yang diprediksi berlanjut pada bulan-bulan mendatang. El Nino yang biasanya berlangsung sembilan hingga 12 bulan ini dikhawatirkan berkembang menjadi Super El Nino jika pelepasan panas di Pasifik terus meningkat secara masif.

Ilmuwan iklim dari California Institute for Water Resources, Daniel Swain, menjelaskan bahwa meskipun indikator utama sudah terlihat, kepastian mengenai intensitas ekstrem tersebut masih dalam pemantauan.

"Salah satu elemen kunci agar fenomena ini benar-benar terwujud faktanya sedang terjadi. Kita masih belum tahu persis apa yang akan terjadi. Belum ada kepastian bahwa ini menjadi Super El Nino. Namun, ada potensi terjadinya sesuatu yang benar-benar luar biasa," kata Daniel Swain, ilmuwan iklim dari California Institute for Water Resources.

Pelepasan panas tersebut diprediksi akan mengacaukan sistem iklim, memicu gelombang panas yang lebih kuat, kekeringan parah, hingga banjir dahsyat akibat meningkatnya kelembapan udara. Di wilayah Amazon, ancaman degradasi hutan akibat kebakaran dan kekeringan diperkirakan akan memburuk pada tahun 2026 akibat fenomena ini.

Swain menambahkan bahwa seluruh indikator iklim saat ini menunjukkan kondisi yang tidak stabil untuk periode tahun depan.

"Saat ini, semua indikator menunjukkan bahwa tahun depan akan menjadi tahun yang cukup liar dari sudut pandang iklim global," ujar Daniel Swain.

Analisis lain datang dari University of Pennsylvania yang melihat fenomena ini sebagai bagian dari siklus alami yang akan berayun kembali. Michael Mann memberikan perspektif mengenai fluktuasi suhu global yang terjadi selama siklus El Nino dan La Nina berlangsung.

"Meskipun El Nino sedikit meningkatkan suhu global selama satu atau dua tahun, pada dasarnya fenomena ini adalah "situasi impas". Biasanya kondisinya akan berayun kembali menuju La Nina, yang menurunkan suhu global selama satu atau dua tahun," ujar Michael Mann, ilmuwan iklim University of Pennsylvania.

Dampak El Nino juga diperkirakan menekan musim badai di Atlantik karena dominasi panas di Pasifik. Hal ini berisiko menyebabkan wilayah Karibia mengalami kekeringan ekstrem sepanjang musim panas tahun ini dengan berkurangnya sistem cuaca tropis secara signifikan.

Artikel terkait

Rekomendasi