Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di tengah kondisi suhu udara yang sangat terik di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa, 12 Mei 2026.
Kondisi kontradiktif ini menandakan Indonesia sedang memasuki masa transisi atau pancaroba, di mana radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal namun diikuti pertumbuhan awan hujan signifikan pada sore hingga malam hari.
Data BMKG mencatat lonjakan suhu udara maksimum hingga 36,5 derajat celsius di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, hingga Papua Barat akibat minimnya tutupan awan dalam beberapa hari terakhir.
"Meskipun terasa terik, kondisi tersebut juga dapat memicu pola konvektif udara menjadi cukup signifikan dan menyebabkan pertumbuhan awan hujan pada sore hingga malam hari, khususnya di daerah-daerah dengan kandungan uap air yang tinggi," tulis BMKG dalam siaran persnya.
Hujan ekstrem telah terdeteksi di Sulawesi Tenggara dengan curah 146,0 mm per hari dan Papua Tengah sebesar 143,2 mm per hari, sementara wilayah lain seperti Riau dan Aceh turut melaporkan curah hujan di atas 60 mm.
Peningkatan pertumbuhan awan ini dipicu oleh aktivitas fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, serta keberadaan Ex-Siklon Tropis Hagupit di utara Papua.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," kata BMKG dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Lembaga tersebut menjelaskan bahwa Monsun Australia mulai menguat membawa massa udara kering, namun uap air di selatan Indonesia berpotensi kembali meningkat jika terjadi pelemahan tajam pada angin tersebut.
"Begitu pula dengan gelombang rossby ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat, gelombang ini diprediksi aktif di wilayah Kalimantan Utara, Selat Makassar bagian selatan, Laut Sulawesi, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Laut Flores, dan NTT. Keberadaan gangguan atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah terkait," jelas BMKG.
Masyarakat diimbau menggunakan tabir surya dan menjaga hidrasi saat cuaca panas, serta tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir kilat saat hujan turun tiba-tiba.
"Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang," tutur BMKG.
Prakirawan BMKG Adelia F menambahkan bahwa sejumlah daerah seperti Padang, Tanjung Pinang, hingga Banjarmasin berpotensi mengalami hujan petir, sementara Surabaya dan Yogyakarta diprediksi berawan tebal.
"Untuk bagian barat Indonesia, diwaspadai terdapat potensi hujan petir di Padang, Tanjung Pinang, Banjarmasin dan Tanjung Selor," katanya.
Adelia juga menyoroti potensi hujan ringan di wilayah Banda Aceh, Jakarta, dan Pontianak, serta hujan sedang di wilayah Mamuju dan Kendari untuk kawasan timur Indonesia.
"Serta potensi cerah berawan hingga berawan tebal di Denpasar, Mataram, Manokwari dan Kupang," kata Adelia.