Fenomena Super El Nino Ancam Ketahanan Pangan Asia Tenggara

Fenomena Super El Nino Ancam Ketahanan Pangan Asia Tenggara

Model prakiraan jangka panjang terbaru menunjukkan peluang sebesar 100 persen bagi terbentuknya fenomena cuaca Super El Nino yang kuat pada tahun ini. Kondisi tersebut diperkirakan akan memicu cuaca ekstrem berupa kekeringan parah hingga banjir mendadak yang mengancam stabilitas ekonomi dan produksi pangan di wilayah Asia Tenggara.

Data dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) yang dirilis Mei 2026 meningkatkan prediksi kekuatan fenomena ini hingga puncaknya pada November mendatang. Sebelumnya, data pada Maret 2026 hanya menunjukkan probabilitas sebesar 55 persen untuk mencapai ambang batas Super El Nino pada bulan September.

FOX Forecast Center melaporkan bahwa El Nino dengan intensitas setinggi ini, yang terdeteksi sejak dini, berpotensi menjadi peristiwa iklim yang akan dikenang selama bertahun-tahun. Fenomena ini biasanya menekan aktivitas badai di Atlantik tetapi meningkatkan intensitas badai di Pasifik Timur, yang dijadwalkan dimulai pada 15 Mei 2026.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat suhu permukaan laut di ekuator Pasifik meningkat pesat pada akhir April, yang menandakan kembalinya El Nino bulan depan. Pakar memperingatkan bahwa kenaikan suhu ini tidak hanya membawa kekeringan dan kabut asap ke Asia Tenggara, tetapi juga membuat curah hujan mendadak menjadi lebih berbahaya.

Kepala Operasi Fathom, Andy Smith, menjelaskan bahwa panas yang ekstrem secara kontra-intuitif dapat meningkatkan risiko banjir lokal yang merusak sistem drainase.

"Things get a lot hotter, nevertheless – and this is something that is kind of a little counterintuitive – but it can also mean that localised flooding increases," ujar Andy Smith, Chief Operating Officer Fathom.

Kondisi iklim ini terjadi saat ekonomi berkembang berada dalam posisi rentan akibat ketegangan geopolitik dan tingginya biaya energi. Hal tersebut membuat pemerintah dan rumah tangga memiliki ruang fiskal yang terbatas untuk menghadapi guncangan iklim yang merusak sektor pertanian serta pasokan air.

Di Amerika Serikat, ECMWF memprediksi curah hujan di atas rata-rata bagi wilayah Selatan selama musim dingin, yang dapat membantu mengatasi kekeringan parah di Tenggara. Namun, wilayah Main Development Region di Atlantik tetap diprediksi memiliki aktivitas tropis di bawah rata-rata meskipun suhu air laut meningkat.

Pusat prakiraan cuaca mencatat bahwa meskipun El Nino akan menghambat pembentukan badai tropis di sebagian Atlantik, fenomena ini tidak akan menghentikan seluruh aktivitas cuaca di wilayah tersebut.

"The latest forecast calls for 13 named storms and 6 hurricanes. The average in a season is 14 named storms and 7 hurricanes, according to the FOX Forecast Center," lapor FOX Forecast Center.

Musim badai di Atlantik dijadwalkan dimulai secara resmi pada 1 Juni 2026. Pemerintah di berbagai negara kini diimbau untuk memperkuat infrastruktur drainase dan ketahanan pangan guna memitigasi dampak dari siklus cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung hingga akhir tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi