Layanan bus shalawat bagi jemaah haji Indonesia dari hotel menuju Masjidil Haram akan dihentikan sementara mulai Jumat, 22 Mei 2026 pukul 18.00 Waktu Arab Saudi, seperti dilansir dari Nasional.
Langkah penangguhan transportasi massal ini diambil demi mematangkan persiapan menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kepala Bidang Transportasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Syarif Rahman, mengimbau seluruh jemaah Indonesia agar melakukan penyesuaian terhadap agenda ibadah mereka selama masa pembekuan layanan bus tersebut.
"kami mengimbau jemaah untuk beribadah di mushala atau masjid di sekitar hotel saja. Karena penghentian ini bertepatan dengan hari Jumat, sebaiknya jemaah tidak memaksakan diri untuk tetap salat di Masjidil Haram," ujar Syarif Rahman, Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi.
Normalisasi operasional armada bus shalawat dijadwalkan bergulir kembali setelah seluruh fase krusial di Armuzna rampung, tepatnya pada 14 Dzulhijjah mulai pukul 01.00 WAS.
"Sekali lagi, kita akan berikan (layanan bus) kepada jemaah yang akan melaksanakan Thawaf Ifadhah dan Wada'," tegas Syarif Rahman, Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi.
Fasilitas transportasi pasca-Armuzna ini diprioritaskan bagi jemaah gelombang pertama, khususnya kloter awal yang bersiap pulang ke tanah air, agar bisa menunaikan Thawaf Ifadhah dan Thawaf Wada’ tanpa kendala biaya taksi.
"Jemaah tidak perlu risau karena kami telah menyiapkan bus untuk umrah wajib mereka," tambah Syarif Rahman, Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi.
Penyediaan moda transportasi umrah wajib bagi jemaah kloter pamungkas yang mendarat mepet batas waktu operasional ini telah mengantongi restu khusus dari Naqabah atau otoritas transportasi Arab Saudi.
Sebanyak 30 unit bus reguler hingga armada ramah lansia berfasilitas kursi roda disiapkan untuk memobilisasi enam sampai sepuluh kloter terakhir jemaah haji Indonesia melalui opsi Terminal Syib Amir, Terminal Jiad, dan Terminal Jabal Ka'bah.