Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mematangkan skema murur menjelang puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) untuk menyelamatkan jemaah risiko tinggi dan lansia. Langkah ini diambil guna mengantisipasi kepadatan ekstrem yang diprediksi terjadi di kawasan Muzdalifah, seperti dilansir dari Detikcom pada Sabtu (16/5/2026).
Penerapan skema kilat tersebut membuat jemaah kategori rentan beserta para pendampingnya akan langsung diberangkatkan menuju Mina menggunakan bus setelah menjalani wukuf di Arafah. Melalui mekanisme ini, kelompok jemaah tersebut tidak perlu turun maupun bermalam untuk mabit di Muzdalifah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, mengonfirmasi kebijakan tersebut demi memprioritaskan perlindungan kesehatan jemaah.
"Because of space limitations in Muzdalifah, some of our high-risk, elderly, comorbid pilgrims and their companions will be taken directly to Mina," kata Puji Raharjo di Makkah, Sabtu (16/5/2026), dikutip dari laman Kemenhaj.
Mekanisme ini dirancang secara teknis agar pergerakan transportasi jemaah lansia berjalan efektif tanpa harus menunggu terlalu lama di jalur perlintasan.
"This is what they don't have to get off at Muzdalifah and don't have to wait until midnight to pass through Muzdalifah," cetusnya.
Sebaliknya, PPIH Arab Saudi menetapkan bahwa jemaah dengan kondisi fisik yang sehat dan prima tetap diwajibkan menjalani prosesi mabit secara normal di Muzdalifah. Kelompok jemaah sehat ini baru akan dimobilisasi menuju Mina setelah waktu melewati tengah malam.
"We hope all pilgrims can follow the peak of the Hajj pilgrimage normally, healthily, and without any constraints that hinder worship," tutur Puji.
Kepatuhan seluruh jemaah terhadap setiap instruksi yang diberikan oleh petugas di lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan pelaksanaan skema Armuzna musim ini.
"We don't want any more pilgrims to wake up late leaving Muzdalifah or even have to walk because of overcrowding," tegasnya secara blak-blakan.
Selain penataan skema transportasi, PPIH juga mempercepat pengerahan petugas ke wilayah Arafah dan Mina untuk memastikan kesiapan tenda jemaah sebelum puncak haji dimulai. Layanan safari wukuf khusus di dalam sasis kendaraan juga disiapkan dengan kuota ketat sekitar 300 hingga 400 orang jemaah lansia dan disabilitas.
"There are officers who we dedicated specifically in Mina so that pilgrims do not get lost and can be well served," jelas Puji.
Seluruh jemaah haji Indonesia kini diimbau untuk membatasi aktivitas fisik yang menguras energi demi menjaga stamina sebelum fase puncak Armuzna dimulai.
"Hajj is the peak in Arafah. Don't let your energy run out before its time," pungkas Puji.