Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memperkuat layanan medis bagi jamaah haji Indonesia dengan menyiagakan dua pos kesehatan di kawasan Arafah dan Mina mulai Selasa, 26 Mei 2026, menjelang puncak ibadah haji.
Penguatan fasilitas kesehatan ini ditujukan untuk memberikan penanganan medis secara cepat selama fase Armuzna, seperti dilansir dari Cahaya. Selain fasilitas medis, ratusan petugas juga dikerahkan guna mengawal ketertiban pergerakan jamaah.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Maria Assegaf, menjelaskan bahwa langkah taktis ini diambil sebagai bentuk penguatan layanan kesehatan di titik-titik krusial yang dipadati jamaah.
"Kami menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Kemenhaj menilai pergerakan menuju Armuzna menjadi fase krusial yang menuntut kesiapan menyeluruh dari seluruh jamaah haji, terlebih keberangkatan dari Makkah menuju Arafah sudah dimulai sejak Senin pagi pukul 07.00 waktu Arab Saudi.
"Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Guna menghindari kepadatan di jalur pergerakan, pihak kementerian membagi waktu keberangkatan jamaah ke Arafah menjadi tiga gelombang, yaitu pada pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi.
"Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Di samping pengaturan jadwal, aturan mengenai larangan selama mengenakan pakaian ihram juga kembali ditegaskan demi menjaga keabsahan ibadah para jamaah.
"Bagi jemaah laki-laki, kami ingatkan agar tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk anggota badan, tidak menutup kepala dengan penutup yang melekat seperti peci atau sorban, serta tidak menggunakan alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Ketentuan tersebut juga berlaku bagi jamaah perempuan yang dilarang menutup wajah dan memakai sarung tangan, serta seluruh jamaah dilarang memotong kuku, rambut, maupun memakai wewangian setelah berniat ihram.
"Kami meminta seluruhnya jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, makan teratur, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas yang tidak perlu agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Faktor cuaca panas di Arab Saudi menjadi perhatian serius sehingga jamaah disarankan melengkapi diri dengan pelindung seperti payung dan masker saat berada di luar ruangan.
"Bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, pastikan obat pribadi selalu dibawa dan mudah dijangkau," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Sebanyak 657 petugas Satgas Arafah yang terdiri dari Adhoc Arafah, Koordinator Markas, hingga Pengawas Konsumsi kini sudah berjaga di titik-titik strategis untuk memastikan seluruh prosesi berjalan aman.