Presiden Prabowo Subianto mengenakan busana khas Filipina, Barong Tagalog, yang dipadukan dengan sentuhan motif batik Indonesia saat menghadiri jamuan makan malam resmi KTT Ke-48 ASEAN. Acara tersebut berlangsung di Mactan Expo, Cebu, Filipina, pada Jumat (8/5/2026) malam waktu setempat.
Pemilihan busana tersebut menjadi sorotan karena menggabungkan dua identitas nasional dalam satu pakaian formal. Berdasarkan laporan Suara, perpaduan struktur Barong dan motif batik ini berfungsi sebagai instrumen diplomasi budaya yang mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Filipina.
Barong Tagalog sendiri bukan sekadar pakaian formal, melainkan simbol kehormatan, kebebasan, dan keanggunan bagi masyarakat Filipina. Pakaian ini umumnya dibuat dari serat alam premium, seperti serat nanas (piña) atau serat pisang abaka (jusí), dengan karakteristik bahan yang transparan dan ringan.
Kemeja tersebut memiliki detail sulaman tangan yang rumit atau disebut bordado pada bagian depan. Motif yang ditampilkan bervariasi, mulai dari pola bunga hingga geometris. Selain itu, cara pemakaian Barong Tagalog yang tidak dimasukkan ke dalam celana memberikan kesan rapi sekaligus nyaman untuk iklim tropis.
Secara historis, penggunaan kemeja yang tidak dimasukkan ke dalam celana ini berakar dari masa kolonial Spanyol. Pada era tersebut, aturan tersebut awalnya diterapkan oleh penjajah untuk membedakan warga Filipina dari kelas penguasa sebagai bentuk stratifikasi sosial.
Namun, masyarakat setempat mengubah praktik tersebut menjadi bentuk perlawanan diam-diam. Seiring berjalannya waktu, Barong Tagalog bertransformasi menjadi busana resmi kelas atas yang melambangkan kesetaraan bangsa. Saat ini, busana tersebut rutin digunakan dalam upacara nasional penting, termasuk pelantikan presiden dan berbagai pertemuan diplomatik internasional.