Presiden RI Prabowo Subianto mempertanyakan perkembangan situasi mata uang dollar AS kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Senin (18/5/2026). Penjelasan mengenai kondisi ekonomi tersebut terjadi usai acara penyerahan alat utama sistem senjata (alutsista) kepada TNI.
Dilansir dari Nasional, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS baru saja mencetak rekor paling lemah sepanjang sejarah setelah menyentuh angka Rp 17.600 pada Jumat (15/5/2026). Menanggapi posisi rupiah yang merosot sejak menyentuh Rp 17.424 per 5 Mei 2026, Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh langkah penguatan termasuk intervensi pasar valuta asing dan pembelian surat utang negara.
Perbincangan mengenai mata uang asing ini berlangsung singkat saat Presiden Prabowo sedang berkumpul bersama sejumlah pejabat kabinet dan pimpinan Komisi I DPR RI. Kepala Negara kemudian melontarkan pertanyaan santai mengenai kondisi terkini pergerakan valuta asing tersebut.
"Dollar bagaimana?" tanya Prabowo sambil tertawa.
Setelah pertanyaan tersebut dilontarkan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menimpali percakapan dengan memberitahukan agenda keagamaan yang akan dijalani oleh Menteri Keuangan dalam waktu dekat.
"Mau naik haji ini pak," ujar Menhan.
Sebelum momen penyerahan alutsista tersebut, Presiden Prabowo sempat menyinggung perihal pergerakan nilai tukar mata uang ini saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada Sabtu (16/5/2026). Kepala Negara mengimbau agar masyarakat pedesaan tidak perlu merasa cemas terhadap fluktuasi kurs selama stabilitas keuangan negara masih terjaga.
"Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, enggak usah kau khawatir itu. Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dollar dibilang kan. Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri hayo siapa ini?" ujar Prabowo.
Presiden menjamin bahwa ketahanan ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang aman berkat fondasi yang kuat. Pemerintah mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap menaruh kepercayaan penuh pada kekuatan ekonomi domestik.
"Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa ya, mau apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita. Percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat," tutur dia.