Presiden Prabowo Subianto memicu perdebatan luas setelah menyatakan bahwa masyarakat di wilayah pedesaan tidak menggunakan mata uang dolar AS saat meresmikan Museum Marsinah dan operasionalisasi Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang sedang mengalami pelemahan hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, sebagaimana dilansir dari Suara.
"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?" kata Presiden Prabowo Subianto.
Ungkapan tersebut dinilai oleh sebagian pihak sebagai cara komunikasi yang membumi untuk menenangkan masyarakat bahwa ekonomi lokal pedesaan lebih bergantung pada rupiah. Namun, para ekonom memberikan kritik karena komoditas penting pedesaan seperti pupuk, pakan ternak, dan kedelai masih bergantung pada impor yang menggunakan dolar.
Pidato kontroversial ini juga membuat publik kembali menyoroti latar belakang pendidikan Presiden Prabowo Subianto yang sempat berpindah-pindah negara mengikuti pengasingan politik ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo.
Berdasarkan data riwayat pendidikan formalnya, Prabowo mengenal sekolah umum di TK Sekolah Sumbangsih Jakarta, dilanjutkan ke The Dean School Singapura, Glenealy Junior School Hong Kong, Victoria Institution Malaysia, Zurich International School Swiss, dan lulus dari The American School in London, Inggris.
Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ia memasuki jalur militer dengan mendaftar ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang pada tahun 1970 dan berhasil lulus pada tahun 1974.
Karir militernya di satuan Kopassus dan Kostrad diperkuat oleh berbagai pelatihan lanjutan seperti Kursus Dasar Kecabangan Infanteri, Kursus Para Komando, Kursus Perwira Penyelidik, Free Fall, Counter Terrorism Course GSG-9 di Jerman, hingga Special Forces Officer Course di Fort Benning, Amerika Serikat.