Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa aliran kekayaan negara ke luar negeri menjadi faktor utama penyebab kecilnya gaji guru, Aparatur Sipil Negara (ASN), serta aparat penegak hukum di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026.
"Ini sebabnya gaji guru kecil, gaji aparat penegak hukum kecil, gaji ASN kecil, ini yang selalu anggaran tidak cukup, anggaran tidak kuat, dan sebagainya," kata Prabowo.
Penilaian tersebut didasarkan pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai neraca ekspor dan impor Indonesia sepanjang periode 2003-2025 yang dilansir dari Medcom. Data PBB menunjukkan nilai ekspor Indonesia mencapai USD436 miliar, sedangkan nilai impor berada di angka USD343 miliar.
"Ini angka dari PBB. Berarti selama 22 tahun, kekayaan kita yang tinggal di Indonesia USD436 miliar dikurangi USD343 miliar," ungkap Prabowo.
Menurut Kepala Negara, Indonesia dinilai seharusnya tidak mengalami kesulitan keuangan atau krisis ekonomi karena memiliki nilai penjualan yang lebih besar daripada nilai pembelian.
"Kalau ilmu dagang berarti yang kita jual lebih banyak dari yang kita beli. Harusnya negara ini tidak pernah akan mengalami krisis ekonomi," sebut Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden ke-8 RI tersebut menjelaskan bahwa larinya kekayaan negara dipicu oleh praktik curang berupa under invoicing yang dilakukan oleh oknum pengusaha dengan tidak melaporkan nilai penjualan yang sebenarnya.
"Banyak di antara mereka membuat perusahaan di luar negeri, dia jual dari perusahaan di dalam negeri ke perusahaan dia di luar negeri yang harganya jauh di bawah harga yang sebenarnya," ujar Prabowo.