Pria Tewas Dikeroyok di Tempat Biliar Grogol Petamburan

Pria Tewas Dikeroyok di Tempat Biliar Grogol Petamburan

Seorang pria berinisial DM (28) mengembuskan napas terakhirnya setelah menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di sebuah tempat biliar kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, pada Minggu (10/5/2026) dini hari. Korban dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis intensif akibat cedera parah pada bagian kepala.

Aksi penganiayaan berujung maut tersebut dikonfirmasi oleh pihak kepolisian, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Kasus ini bermula dari perselisihan yang terjadi di lokasi hiburan tersebut sebelum akhirnya berujung pada tindakan kekerasan fisik secara bersama-sama terhadap korban.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, memaparkan bahwa pertikaian fisik tersebut sempat berpindah tempat. Korban mengalami tindakan kekerasan hingga tidak sadarkan diri di area pasar setelah terjatuh dari tingkat atas gedung.

“Peristiwa bermula dari adanya keributan di lokasi yang kemudian berlanjut hingga ke lantai 2 Pasar Grogol. Korban diduga dikeroyok oleh beberapa orang, lalu terjatuh ke lantai dasar dan tidak sadarkan diri,” jelas Budi kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam guna mengungkap seluruh pelaku yang terlibat. Tim penyidik juga telah mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara serta memeriksa sejumlah saksi di sekitar area kejadian.

Keterangan mengenai kronologi awal juga disampaikan oleh kakak perempuan korban, Mita, yang menyebutkan bahwa kehadiran adiknya di lokasi tersebut sebenarnya untuk melerai pertengkaran. Kekasih DM awalnya terlibat cekcok dengan seorang wanita lain sebelum situasi memanas dan berbalik menyerang korban.

"Udah digebukin di atas kayak gitu, terus didorong dari lantai dua. Udah didorong lagi di lantai dua nih, udah jatuh ke bawah masih diinjek-injek juga," ujar Mita saat dihubungi Kompas.com.

Akibat tindakan brutal tersebut, korban yang sudah tidak berdaya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Tarakan. Tim dokter mendiagnosis korban mengalami pendarahan hebat pada batang otak yang membuatnya sempat berada dalam kondisi koma selama empat hari sebelum akhirnya meninggal pada Kamis (14/5/2026).

Aparat kepolisian kini tengah mengumpulkan berbagai barang bukti pendukung untuk memperkuat proses hukum. Salah satu fokus penyelidikan saat ini adalah memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar lokasi pengeroyokan.

Artikel terkait

Rekomendasi