Organisasi massa Projo dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tengah bersaing memperebutkan pengaruh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, terkait rencana kunjungan kerja untuk menyerap aspirasi masyarakat Indonesia pada Juni 2026. Sebagaimana dilansir dari Nasional, kedua pihak mengklaim sebagai inisiator di balik persiapan mobilitas mantan Wali Kota Solo tersebut.
Klaim rivalitas ini memicu kritik dari pengamat politik mengenai dampak nyata ketokohan Jokowi terhadap perolehan suara partai. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, memberikan catatan kritis terhadap efektivitas pengaruh politik mantan presiden tersebut dalam kontestasi pemilu lalu.
"Membaca jejak pengaruh Jokowi di Pemilu 2024, dan dalam catatan survei yang IPO lakukan, Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas Parpol," kata Dedi kepada Kompas.com, Jumat (15/6/2026).
Dedi mengungkapkan bahwa PSI belum mampu menembus ambang batas parlemen untuk duduk di Senayan meski telah mendapat sokongan politik dari Jokowi. Posisi partai tersebut bahkan tercatat berada di bawah Perindo serta setara dengan partai baru lainnya seperti Partai Ummat, Gelora, dan PKN.
"Memang Prabowo berhasil menang di Pilpres. Tetapi catatannya bukan didominasi faktor Jokowi," ungkap Dedi.
Analisis IPO menunjukkan bahwa aksi saling klaim antara Projo dan PSI justru berpotensi menggerus wibawa pengaruh Jokowi. Dedi juga menyoroti ketergantungan Projo terhadap sosok Jokowi yang dianggapnya tidak bisa dilepaskan begitu saja.
"Klaim Projo bahwa mereka bukan Pro Jokowi tidak masuk akal," ujar Dedi.
Sebelumnya, pihak Projo menyatakan kesiapan fisik Jokowi yang disebut telah mencapai 99 persen untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia. Namun, pernyataan ini segera mendapatkan sanggahan keras dari pihak PSI.
Perwakilan PSI, Bestari, menegaskan bahwa partailah yang menyusun agenda perjalanan tersebut dan mempertanyakan integritas loyalitas Projo terhadap Jokowi saat ini.
"Kita yang menyiapkan. Saya enggak tahu itu Projo, Projo apa ya? Projo kan bukannya bukan Pro Jokowi? Bukan Pro Jokowi, pada waktu itu pernah ngomong. Jadi agak membingungkan lu menanyai saya ini Projo, Projo mana? Yang sudah enggak Pro Jokowi lagi?" ujar Bestari kepada Kompas.com, Kamis (14/5/2026).