Aksi protes pecah di Tenerife, Spanyol, pada Jumat, 8 Mei 2026, menyusul keputusan pemerintah yang mengizinkan kapal pesiar MV Hondius bersandar di tengah wabah virus hanta. Kelompok pekerja pelabuhan menuntut jaminan keamanan ketat setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut.
Pemerintah pusat Spanyol telah menyepakati prosedur evakuasi bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagi kapal yang bertolak dari Tanjung Verde itu. Ketegangan meningkat di Santa Cruz saat para demonstran menggunakan peluit dan vuvuzela untuk mengekspresikan kekhawatiran terhadap risiko kesehatan publik bagi warga lokal.
Perwakilan serikat pekerja pelabuhan setempat, Joana Batista, menegaskan keberatan para pekerja terhadap kondisi operasional saat ini. Mereka menuntut protokol keselamatan khusus sebelum kapal pesiar yang terinfeksi tersebut tiba di wilayah mereka.
"We're unhappy at the idea of being allowed to work in a port without special safety measures or information when an infected boat is approaching," ujar Joana Batista, dari serikat pekerja pelabuhan lokal.
Ancaman blokade kedatangan kapal dilontarkan oleh para pekerja jika tuntutan terkait transparansi transportasi penumpang tidak dipenuhi. Batista menekankan bahwa masyarakat membutuhkan kepastian mengenai dampak operasional pelabuhan terhadap keamanan warga sekitar.
"If the boat is going to stop here, then it can do so, but with the necessary measures in place," kata Joana Batista.
"Local people need to be told how this will affect them, how the passengers will be transported. We need reassurance above all," lanjut Joana Batista.
Di sisi lain, warga sipil juga menyuarakan kekecewaan terhadap pemerintah pusat yang dinilai mengabaikan penolakan Presiden regional Kepulauan Canary, Fernando Clavijo. Ahli gizi Maria de la Luz Sedeno mengaitkan situasi ini dengan akumulasi rasa frustrasi warga atas penanganan krisis internasional di wilayah mereka.
"This is the last straw when it comes to everything the people of the Canary Islands have to put up with," kata Maria de la Luz Sedeño.
Sedeño mengkritik kurangnya perhatian otoritas terhadap aspirasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan krusial ini. Keluhan tersebut muncul di tengah ingatan warga akan awal pandemi Covid-19 yang juga bermula dari kedatangan wisatawan di wilayah tersebut.
"The people here are not being listened to," ujar Maria de la Luz Sedeño.
Menanggapi gelombang protes, otoritas perlindungan sipil Spanyol, Virginia Barcones, memastikan kapal tidak akan merapat langsung ke dermaga Tenerife. Penumpang akan dipindahkan menggunakan feri ke pelabuhan industri Granadilla yang terisolasi dari kawasan pemukiman untuk kemudian menjalani karantina atau repatriasi.
"will be absolutely and completely protected," kata Virginia Barcones, kepala badan perlindungan sipil Spanyol.
Sebagian warga mulai merasa tenang setelah mendapatkan rincian prosedur operasional dari pemerintah pusat. Marialaina Retina Fernandez, seorang pensiunan, memilih untuk mempercayai kapasitas fasilitas kesehatan lokal dalam mengelola situasi darurat ini.
"Now I'm a bit calmer because there's more information," ujar Marialaina Retina Fernández, seorang pensiunan.
Meskipun menganggap situasi ini tidak ideal, Fernandez berharap komitmen pemerintah untuk mencegah penularan dapat terlaksana dengan baik. Ia meyakini bahwa wilayahnya memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis internasional sebelumnya.
"It's not ideal that they all end up coming here," kata Marialaina Retina Fernández.
"But if [the authorities] say they'll do everything possible to make sure nobody gets infected, let's hope that's how it is," lanjut Marialaina Retina Fernández.
"We're used to all sorts of problems arriving here," ujar Marialaina Retina Fernández.
"You can see that we're good at managing these situations," pungkas Marialaina Retina Fernández.