Siswa SMAN 1 Pontianak melayangkan protes terhadap keputusan dewan juri dalam Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Sabtu (9/5/2026). Protes tersebut dipicu oleh pengurangan poin pada jawaban regu mereka yang kemudian dianggap benar saat dijawab sekolah lain.
Kejadian ini bermula ketika Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan mengenai lembaga yang memberikan pertimbangan kepada DPR dalam memilih anggota BPK. Dilansir dari Nasional, meski memberikan jawaban lengkap, juri justru memberikan nilai minus lima kepada mereka.
Salah satu siswa mengungkapkan bahwa jawaban anggota timnya, Josepha Alexandra atau Ocha, sebenarnya sudah tepat. Namun, dewan juri justru memberikan poin 10 kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas yang memberikan jawaban serupa setelah soal dilemparkan kembali.
"Nah ketika host itu melemparkan soal kepada grup A dan juga grup B, grup B menjawab dengan jawaban yang sama, sangat sama sekali. Secara substansi juga sama," kata siswa tersebut.
Para siswa merasa heran karena jawaban yang identik tersebut membuahkan hasil penilaian yang sangat kontras. Ketidaksesuaian ini memicu kekagetan di pihak tim SMAN 1 Pontianak yang sedang berkompetisi di babak final tersebut.
"Kemudian diberikan nilai 10 poin oleh juri, maka di situ kami juga kaget, jujur nih kita kaget sekali," ucap siswa itu.
Dukungan dari rekan setim menguatkan keyakinan Ocha untuk segera menyuarakan keberatan di hadapan dewan juri. Keyakinan tersebut didasari pada kemiripan kalimat yang diutarakan oleh kedua regu yang bersaing.
"Karena memang tidak hanya secara substansi tapi secara kalimat yang dilontarkan Ocha sebagai tim C dan juga dengan tim B itu memiliki kesamaan yang persis. Makanya kami di situ pede sekali untuk bisa protes kepada dewan juri," imbuhnya.
Ocha yang menjadi sorotan dalam insiden tersebut memberikan apresiasi kepada publik yang memperhatikan kasus ini. Ia merasa terharu dengan banyaknya tanggapan positif yang masuk setelah rekaman protesnya tersebar di media sosial.
"Dari saya dan tim berterima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan aspirasi positifnya kepada kami," kata Ocha.
Remaja ini juga mengakui bahwa dirinya tidak mengira aksi spontannya di panggung LCC akan memicu perhatian luas secara nasional. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya dan tim hanya ingin memperjuangkan hak mereka dalam kompetisi tersebut.
"Saya dan tim sebenarnya tidak menyangka bahwa atensinya bisa sebesar ini dan video yang tersebar juga booming," katanya.
Melalui peristiwa ini, Ocha berharap timnya dapat terus memacu diri untuk meraih prestasi yang lebih baik. Ia memandang dukungan masyarakat sebagai bahan bakar motivasi bagi sekolahnya di masa depan.
"Semoga hal ini dapat menjadi semangat dan motivasi kami untuk bisa berkembang dan maju lagi ke depannya," tandasnya.
Lomba yang diikuti sembilan sekolah ini menyisakan SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau di babak final. Perselisihan memuncak pada sesi rebutan saat Ocha memberikan jawaban spesifik mengenai prosedur pemilihan anggota BPK.
"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," ujar seorang siswi dari Regu C yang diketahui adalah Ocha.
Dewan juri, Dyastasita WB, yang menjabat Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, menilai jawaban tersebut salah dan memotong poin Regu C. Di sisi lain, Regu C berupaya menjelaskan bahwa mereka telah memberikan jawaban yang benar di atas panggung.
"Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B," kata peserta Regu C.
Kericuhan kecil terjadi saat Regu C mencoba meminta kesaksian dari para penonton di lokasi acara. Ocha bahkan mempertanyakan apakah suaranya saat menyebutkan unsur DPD terdengar oleh audiens yang hadir.
"Apakah ada yang mendengar saya mengatakan DPD," ucap peserta dari Regu C.
Menanggapi tensi yang meninggi, Dyastasita menegaskan otoritas dewan juri dalam menentukan penilaian akhir lomba. Ia menyatakan bahwa juri tidak mendengar kata kunci yang dimaksud dalam jawaban Regu C.
"keputusan saya kira di dewan juri ya," kata Dyastasita.
Dewan juri lainnya, Indri Wahyuni, menekankan pentingnya kejelasan suara saat peserta memberikan jawaban. Ia menjelaskan bahwa artikulasi menjadi parameter penting yang sudah diingatkan sejak awal perlombaan dimulai.
"Begini ya, kan sudah diingatkan dari awal, artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas, dewan juri kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima," katanya.
Penjelasan tersebut menjadi penutup argumen dari pihak juri terkait sanksi pengurangan poin bagi SMAN 1 Pontianak. Juri meminta seluruh peserta untuk lebih memperhatikan cara mereka berbicara saat menjawab soal-soal berikutnya.
"Jadi sekali lagi kami peringatkan artikulasi diperhatikan, ya," ucap Indri.