BEKASI, KOMPAS.com – Keberadaan sekolah gratis bagi anak-anak dari keluarga pemulung dan buruh serabutan di Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi menjadi langkah penting dalam membuka akses pendidikan.
Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat sisi psikologis yang kompleks dan perlu mendapat perhatian.
Konselor anak, Agustina Twinky Indrawati, mengungkapkan bahwa anak-anak dari latar belakang ekonomi rentan kerap mengalami kondisi batin yang tidak sederhana meski telah mendapatkan akses pendidikan.
Menurutnya, situasi tersebut berpotensi memunculkan kecemasan pada anak.
“Mereka bisa merasa dihargai, dianggap setara dengan teman-teman lain, serta memiliki harapan dan identitas yang positif. Tapi di sisi lain, tetap ada perasaan berbeda, minder, dan kekhawatiran terhadap masa depan karena kondisi ekonomi keluarga,” ujar Twinky saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan, Selasa (5/5/2026).
Di satu sisi, pendidikan memperluas wawasan dan mendorong mereka berani memiliki cita-cita besar.
Namun di sisi lain, keterbatasan ekonomi keluarga dapat menjadi tekanan yang memicu kelelahan mental.
Anak-anak mengikuti kegiatan belajar di Sekolah Inspirasi Indonesia, Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi di tengah keterbatasan sebagai anak dari keluarga pemulung, Selasa (5/5/2026).
Selain faktor internal, Twinky menyebut tekanan juga datang dari lingkungan sosial.
Stigma dari teman sebaya maupun masyarakat, seperti ejekan, pengucilan, atau label negatif, dapat berdampak langsung pada kepercayaan diri anak.
“Mereka bisa menjadi lebih tertutup, menarik diri, bahkan mulai mempercayai penilaian negatif tentang dirinya,” kata dia.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran sekolah dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan inklusif.
Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga sebagai ruang aman bagi anak untuk tumbuh secara emosional.
“Lingkungan sekolah yang menerima dan mendukung dapat membantu mengurangi dampak stigma, sehingga kepercayaan diri anak perlahan meningkat,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan, Twinky melihat anak-anak tersebut tetap memiliki daya juang yang tinggi.
Dimana harapan menjadi salah satu mekanisme bertahan yang mendorong mereka untuk terus melangkah.
“Kesulitan justru bisa memunculkan motivasi untuk berubah, apalagi jika ada dukungan dari lingkungan dan figur positif di sekitar mereka,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya faktor lingkungan tempat tinggal dalam membentuk pola pikir anak.
Lingkungan yang penuh tekanan dan keterbatasan dapat meningkatkan risiko stres serta membuat anak sulit melihat peluang.
Sebaliknya, lingkungan yang aman dan suportif membantu anak merasa dihargai dan berpikir lebih positif.
Langkah Meraih Cita-cita
Kondisi ekonomi keluarga, lanjutnya, turut memengaruhi cara anak memandang masa depan.
Sebagian anak mungkin diliputi rasa cemas hingga menekan impian mereka, namun tidak sedikit pula yang menjadikan keterbatasan sebagai motivasi untuk berusaha lebih keras.
Dalam hal ini, peran orangtua dan orang dewasa di sekitar anak menjadi sangat krusial.
Dukungan emosional, penghargaan terhadap usaha anak, serta komunikasi yang positif dinilai mampu menjaga kepercayaan diri anak.
“Penting juga untuk tidak membandingkan anak dengan orang lain, memberi kesempatan mereka mencoba, dan menjadi contoh dalam menghadapi kegagalan,” kata Twinky.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap anak-anak dari keluarga rentan.
Membangun empati dan pemahaman bahwa setiap anak memiliki potensi yang sama menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
“Selalu komunikasi yang positif dan sikap saling menghargai perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak bisa tumbuh tanpa label negatif,” tuturnya.
Twinky juga menyampaikan pesan bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan agar tetap percaya diri dan tidak berhenti bermimpi.
“Pendidikan adalah jalan penting untuk membuka peluang masa depan. Setiap langkah kecil yang diambil hari ini akan membawamu lebih dekat pada cita-cita,” ujar dia.
Pendidikan Penting
Salah satu sudut permukiman padat di RT 003/RW 008, Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi terdapat sekolah taman kanak-kanak bernama Sekolah Inspirasi Indonesia.
Mayoritas orangtua murid di sekolah tersebut berprofesi sebagai pemulung atau pekerja serabutan.
Di tempat inilah sejumlah keluarga bertahan hidup di tengah keterbatasan, sembari menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Salah satunya adalah Entin (45). Setiap hari ia mengais rezeki dari tumpukan sampah, dengan harapan anaknya tidak mengalami nasib serupa.
“Ya pendidikan itu penting banget buat kami. Jangan sampai emak bapaknya pemulung, anaknya juga ikutan gitu. Makanya disekolahin biar pintar, biar sukses,” ujar Entin saat ditemui Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Anaknya, Zaky (7), kini menjadi salah satu murid di sekolah tersebut.
Ia belajar membaca, menulis, dan berhitung, hal yang sebelumnya sulit dijangkau oleh keluarganya.
Bagi Entin, keberadaan sekolah gratis itu menjadi satu-satunya harapan di tengah keterbatasan ekonomi.
“Kalau sekolah di luar kan pakai biaya, nah di sini enggak. Yang penting anak saya biar pintar belajar sama gurunya. Terus juga masih dalam jangkauan saya,” ungkapnya.
Keberadaan Sekolah Inspirasi Indonesia seolah menjadi cahaya di tengah kondisi yang serba terbatas.
Meski dengan fasilitas sederhana, tempat itu menjadi ruang tumbuh bagi harapan anak-anak pemulung.
Di ruang kecil itu, mereka belajar bahwa masa depan tidak ditentukan dari tempat mereka lahir dan bahwa mimpi tetap bisa tumbuh, bahkan di tengah bau sampah dan tumpukan rongsokan.
Bantu Amanin Negara
Keseharian Zaky sepulang sekolah kembali ke tumpukan sampah untuk membantu orangtuanya. Malam hari, ia baru bisa kembali belajar dan membuka buku.
Namun dia memiliki cita-cita yang luar biasa untuk mengamankan negara.
“Saya cita-citanya mau jadi polisi. Soalnya mau bantu amanin negara,” ucap Zaky.
Cerita serupa datang dari Velia (7), teman sekelas Zaky. Di tengah keterbatasan, semangat belajarnya tak kalah besar.
Velia tinggal bersama ayahnya, Erwin (42), dan kakaknya, Laras (15). Ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi, sehingga peran ibu kini banyak digantikan oleh sang kakak.
"Senang bisa sekolah. Soalnya banyak teman-teman yang baik juga,” ujar Velia pelan.
Laras menjadi sosok yang mendampingi hampir seluruh aktivitas Velia, mulai dari belajar hingga kebutuhan sehari-hari.
Melihat sang adik yang kini sudah bisa membaca dan menulis, Laras mengaku bangga, terlebih di tengah kondisi yang tidak mudah.
Ia berharap dirinya dan sang adik bisa mengubah nasib menjadi lebih baik.
“Pendidikan itu penting banget buat masa depan. Semoga Lia bisa sukses dan bantu orangtua,” ujarnya.