Sopir truk yang melintasi kawasan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, mengeluhkan maraknya praktik pungutan liar oleh oknum warga pada Selasa (5/5/2026). Para pengemudi mengaku terbebani oleh pungutan yang terus muncul kembali meski aparat kepolisian telah berulang kali melakukan penindakan di lokasi tersebut.
Keresahan para sopir dipicu oleh frekuensi pungutan yang seolah tidak pernah berhenti di jalur distribusi logistik tersebut sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Salah seorang sopir truk, Ardi, mengungkapkan bahwa penangkapan oleh petugas tidak memberikan efek jera jangka panjang bagi para pelaku di lapangan.
"Ya, di situ mah tidak bisa hilanglah. Ditangkap hari ini, besok juga ada lagi, ada lagi," tutur Ardi.
Kegagalan pemberantasan pungli ini dinilai terjadi karena jumlah oknum yang terlibat jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pelaku yang berhasil diringkus oleh kepolisian dalam setiap operasi. Ardi menyebut para pelaku bekerja secara berkelompok di setiap titik strategis, terutama pada area persimpangan jalan dan putaran arah.
"Mereka-mereka yang ditangkap doang, yang lain juga masih ada kawan-kawannya," ujar Ardi.
Keberadaan kelompok oknum ini tersebar merata di beberapa titik krusial di wilayah Kamal Muara. Di satu titik saja, jumlah pelaku yang berjaga bisa mencapai enam orang, terutama di area yang dekat dengan fasilitas pompa air.
"Masalahnya kan ya orang-orang itu kan bukan satu dua. Setiap perempatan itu. Satu titik bisa empat sampai lima orang. Apalagi di putaran Kamal itu yang dekat pompa air. Kadang-kadang sampai enam orang itu," kata Ardi.
Selain menyasar kontainer besar, pelaku juga membidik truk boks ukuran kecil hingga kendaraan yang berpelat nomor luar Jakarta. Pengemudi asal luar kota atau lintas Sumatera disebut menjadi incaran utama karena dianggap lebih mudah diperas oleh oknum tersebut.
"Apalagi sama mobil-mobil luar lintas Sumatera-an itu. Paling senang dia. Justru paling senang dia kalau mobil-mobil luar kota itu," ungkap Ardi.
Ardi juga menambahkan bahwa truk ukuran kecil seperti jenis colt diesel tidak luput dari sasaran para pelaku. Nominal yang diminta dari jenis kendaraan ini biasanya berkisar antara satu hingga dua ribu rupiah per titik.
"Ya, colt diesel-colt diesel juga kena. Ya cuman mereka kan paling ya seribu, dua ribu gitu," lanjut Ardi.
Praktik ilegal ini sering kali memicu keributan antara pengemudi dan oknum warga di lokasi. Perselisihan muncul saat sopir mencoba menghindari pungutan atau tidak bersedia memberikan uang yang diminta oleh kelompok tersebut.
"Sering. Ya memang ributnya sama sopir-sopir terus," ucap Ardi.
Ardi menjelaskan bahwa para pelaku tidak segan melakukan tindakan intimidasi fisik terhadap kendaraan. Mereka sering kali menggedor kaca jendela truk jika sopir mengabaikan permintaan uang saat melintasi jalur tersebut.
"Ya, kadang-kadang kita tutup jendela juga kan kadang digedor-gedor sama dia orang. Ya kita sih udah antisipasi aja," ujar Ardi.
Keterangan serupa disampaikan oleh pengemudi lain bernama Fatih yang mengonfirmasi tingginya tensi konflik di kawasan tersebut. Ia menunjuk area dekat Rumah Pompa Polder Kamal sebagai titik yang paling rawan terjadi baku hantam antara sopir dan pelaku pungli.
"Di situ tuh seringnya sopir pada berantem. Soalnya kalau enggak dikasih, ngamuk," tutur Fatih.
Fatih mengungkapkan dampak dari kondisi keamanan yang tidak kondusif ini membuat banyak rekan seprofesinya enggan mengambil pekerjaan yang rutenya melewati Kamal Muara. Hal ini berdampak pada penolakan order pengiriman ke wilayah tersebut oleh sejumlah sopir.
"Sopir udah pada kagak mau, narik ke sana," kata Fatih.
Kondisi ini memaksa para sopir untuk meminta tambahan biaya operasional yang lebih besar kepada perusahaan logistik tempat mereka bekerja. Uang tambahan tersebut dipersiapkan secara khusus untuk memenuhi tuntutan oknum pungli di sepanjang perjalanan.
"Udah pada kagak mau, narik ke sini sebenernya. Makanya kami bilang, kalau mau ke sini harus uang jalannya gede," tutur Fatih.
Fatih membeberkan bahwa dalam satu kali perjalanan, seorang sopir bisa menghabiskan biaya pungli hingga ratusan ribu rupiah. Besaran biaya ini tergantung pada waktu operasional, di mana tarif pungutan liar melonjak drastis saat malam hari.
"Kalau lagi apes bisa Rp 200.000 sekali jalan, bukan bolak-balik," lanjut Fatih.
Pada siang hari, pungutan per titik berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000, namun angka tersebut bisa naik hingga Rp 50.000 per titik saat malam hari di jalur yang rawan. Akumulasi biaya tersebut menjadi beban berat bagi operasional logistik di wilayah Penjaringan.
"Malam yang jalur-jalurnya rawan, itu bisa minta Rp 30.000, kadang Rp 50.000. Kalau misal lagi apes ya bisa (habis total) Rp 200.000," ucap Fatih.