F (33), seorang anak dari penulis buku Ahmad Bahar, mendatangi Gedung Komnas HAM di Jakarta Pusat pada Kamis (21/5/2026) untuk mengungkap penjemputan paksa dan intimidasi yang dialaminya. Peristiwa penjemputan tersebut terjadi di rumahnya di kawasan Cimanggis, Depok, oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) GRIB Jaya.
Aksi pemaksaan tersebut dilakukan oleh sekelompok orang yang berniat mencari keberadaan Ahmad Bahar, dilansir dari Megapolitan. F menuturkan bahwa rombongan yang awalnya berjumlah empat orang terus bertambah banyak hingga memicu rasa takut bagi dirinya dan keluarga di dalam rumah.
"Saya sudah bilang, saya gak mau ikut gitu kan. Ya karena kan yang dicari bapak. Tapi mereka tetap memaksa saya untuk ikut,” kata F kepada wartawan.
Pihak penjemput sempat berdalih bahwa keikutsertaan F ke kantor GRIB Jaya adalah demi menjamin keamanan situasi di kediamannya. Mereka bahkan menawarkan untuk membuat surat pernyataan tertulis di atas meterai.
“Mereka bilang, 'nanti kita bikin surat di atas meterai bahwa menjamin kamu akan aman'. Saya bilang 'saya enggak mau',” lanjut F.
F akhirnya terpaksa menuruti kemauan rombongan tersebut demi keselamatan neneknya yang berada di dalam rumah. Langkah ini diambil setelah Ketua RW dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat datang ke lokasi kejadian untuk menengahi situasi.
“Kalau saya enggak ikut akan semakin banyak orang yang akan datang,” kata F.
Sesampainya di markas pusat GRIB Jaya di wilayah Jakarta Barat, F diwajibkan menunggu kedatangan Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules. Saat pertemuan terjadi, Hercules langsung menuduh F telah mengirimkan pesan bernada ancaman kepada dirinya beserta sang istri.
“Setelah Pak Hercules datang, Pak Hercules masih tetap bilang, 'kamu nih ya ngapain ancam-ancam saya dan istri saya'. Saya bilang, 'maaf Pak, bukan saya'. Tapi beliau tetap tidak percaya,” ujar F.
Selama berada di markas ormas tersebut, F mengaku dikelilingi oleh banyak pria bertubuh besar. Kondisi tersebut membuatnya merasa tidak berdaya sekaligus menerima berbagai bentuk intimidasi verbal yang tidak pantas.
“Lagian saya siapa sih berani-beraninya ngancam beliau, urusan saya apa, saya kenal aja enggak, tahu istrinya juga enggak tahu siapa. Di sana ya banyak kata-kata yang menurut saya tidak pantas. Apalagi di situ posisinya kan saya dikelilingi oleh laki-laki, kebanyakan laki-laki gitu kan, besar-besar,” ujarnya.
Selain cercaan lisan, F juga mendapatkan tekanan emosional terkait penampilannya. Salah satu oknum di lokasi bahkan memerintahkan dirinya untuk menanggalkan jilbab yang dikenakannya.
“Dia bilang, 'kamu nih gimana sih kamu kan perempuan, kamu harusnya berbuat baik, copot aja itu jilbab kamu',” tutur F.
Intimidasi tidak berhenti di situ, karena F juga dijadikan jaminan agar ayahnya segera datang menemui pimpinan ormas. Ia diancam ditahan di tempat tersebut jika Ahmad Bahar tidak kunjung memperlihatkan diri.
“Kalau bapak kamu enggak datang sekarang, kamu enggak akan bisa pulang dari sini,” kata F.
Dalam suasana penuh tekanan tersebut, pimpinan ormas GRIB Jaya diduga melakukan tindakan ekstrem untuk menakut-nakuti korban. F menyatakan melihat langsung sebuah senjata api dikeluarkan dan diletuskan ke udara.
“Dia mengeluarkan pistol itu kan. Terus, 'kamu kalau berani nih kamu lihat nih ya', sambil tunjuk-tunjuk. Saya pikir enggak bakal sampai menembakkan gitu kan. 'Nih saya tembakkan, dor dor', dua kali dia tembakkan,” ujar F.
Meskipun F secara konsisten membantah seluruh dakwaan yang diarahkan kepada dirinya, pihak ormas tetap menyudutkannya. F menegaskan dirinya sama sekali tidak mengetahui persoalan yang sedang terjadi.
“Dari awal saya udah billing saya enggak tahu apa-apa, itu bukan saya, tapi tetap saya disalahkan,” kata F.
Kedatangan belasan anggota GRIB Jaya ke rumah Ahmad Bahar pada Minggu (17/5/2026) sekitar pukul 14.00 WIB dipicu oleh sebuah konten di media sosial TikTok. Unggahan Ahmad Bahar dinilai telah menyudutkan Hercules, ditambah adanya tuduhan pengiriman pesan ancaman via WhatsApp.
Istri Ahmad Bahar, Yenni Nur, membenarkan bahwa putrinya dijadikan alat penekan agar suaminya bersedia menemui Hercules. Di sisi lain, Ahmad Bahar dilaporkan telah menyampaikan permohonan maaf dan mengklarifikasi bahwa nomor WhatsApp miliknya sempat diretas orang lain.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson, guna meminta tanggapan resmi mengenai kesaksian yang dibeberkan oleh F. Kendati demikian, hingga informasi ini disiarkan, pihak kuasa hukum belum memberikan respons atau jawaban resmi. Adapun perselisihan antara Ahmad Bahar dan pihak GRIB sebelumnya dinyatakan telah selesai secara damai melalui mediasi yang dilakukan oleh Polres Metro Depok.