Mantan Presiden Kuba, Raúl Castro, dikabarkan berpotensi menghadapi dakwaan hukum di Amerika Serikat (AS). Langkah hukum ini berkaitan erat dengan peristiwa penembakan pesawat pada tahun 1996 silam.
Tragedi tersebut menewaskan sejumlah anggota Brothers to the Rescue, sebuah kelompok kemanusiaan. Peristiwa penembakan dua pesawat sipil di sekitar wilayah udara Kuba itu menjadi titik panas dalam hubungan bilateral Kuba dan AS.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman proses hukum resmi dari otoritas terkait. Namun, munculnya wacana dakwaan ini kembali mengarahkan perhatian publik pada peran jangka panjang figur berusia 94 tahun tersebut di militer Kuba, seperti dikutip dari Reuters.
Raúl Castro merupakan salah satu tokoh kunci dalam sejarah politik modern Kuba. Bersama sang kakak, Fidel Castro, ia menjadi arsitek utama Revolusi Kuba pada tahun 1959 yang menggulingkan rezim Fulgencio Batista dukungan AS.
Setelah keberhasilan revolusi, ia menjabat sebagai menteri pertahanan selama beberapa dekade. Posisinya tersebut memperkuat pengaruhnya di dalam angkatan bersenjata serta struktur pemerintahan negara komunis tersebut.
Ia terlibat langsung dalam penguatan militer Kuba saat menghadapi invasi Teluk Babi pada tahun 1961. Selain itu, ia mengendalikan berbagai operasi militer luar negeri Kuba, terutama yang berlangsung di kawasan Afrika.
Transisi dan Puncak Kekuasaan
Karier politiknya meningkat signifikan ketika Fidel Castro jatuh sakit pada tahun 2006. Raúl mengambil alih tugas sebagai penjabat presiden sebelum akhirnya resmi memimpin negara tersebut pada tahun 2008.
Kepemimpinannya dinilai berhasil menjaga stabilitas pemerintahan Kuba di tengah periode transisi kekuasaan. Setelah Fidel Castro wafat pada tahun 2016, peran politiknya tetap menjadi yang paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan.
Meskipun resmi mundur dari kursi kepresidenan pada tahun 2018, ia tetap menyandang gelar kehormatan jenderal angkatan bersenjata. Ia juga mempertahankan kendali besar di Partai Komunis Kuba serta institusi militer.
Presiden Kuba saat ini, Miguel Díaz-Canel, dilaporkan masih aktif berkonsultasi dengan tokoh senior tersebut dalam pengambilan keputusan strategis negara. Pengaruh politiknya dinilai belum sepenuhnya hilang.
Pada Desember 2025, ia mengusulkan penundaan kongres Partai Komunis karena situasi krisis ekonomi yang memburuk. Usulan tersebut kemudian disetujui secara bulat oleh Komite Sentral partai.
Penampilan publik terakhirnya tercatat pada 1 Mei 2026 saat menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Havana. Ia hadir mengenakan seragam militer bersama Presiden Miguel Díaz-Canel, meski sempat dilaporkan tampak lelah di tengah acara.