Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian Jemaah Haji Akibat Panas Ekstrem

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian Jemaah Haji Akibat Panas Ekstrem

Risiko kesehatan serius akibat perubahan iklim terus mengancam jutaan jemaah haji setelah suhu panas dan kelembapan ekstrem pada musim haji 2024 dilaporkan telah melampaui batas kemampuan fisik manusia. Kondisi menyengat tersebut terjadi selama beberapa jam dan dinilai membahayakan keselamatan orang dewasa yang sehat sekalipun.

Analisis tim ahli dari Layanan Cuaca dan Iklim Islamabad serta Climate Analytics Berlin mengungkapkan bahwa pada Juni 2024, kombinasi panas dan udara lembap menciptakan durasi empat jam berturut-turut yang mematikan. Fenomena ini sangat berisiko bagi individu yang berada di luar ruangan tanpa akses pendingin udara atau bantuan medis segera.

Data yang dilansir dari Lestari menunjukkan bahwa sekitar 1.300 orang dilaporkan meninggal dunia selama musim haji 2024. Puncak risiko terjadi pada Hari Arafah, di mana para jemaah wajib menghabiskan seluruh waktu di area terbuka dengan fasilitas perlindungan dari sinar matahari yang sangat terbatas.

Pertemuan European Geosciences Union (EGU) tahun 2026 menyoroti bahwa pola cuaca di masa depan akan semakin berbahaya bagi pelaksanaan rukun Islam tersebut. Meskipun ibadah haji diprediksi jatuh pada musim yang lebih sejuk dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, suhu panas ekstrem diperkirakan kembali melanda sekitar tahun 2050.

Pemerintah Arab Saudi saat ini berencana menambah kuota jemaah haji di masa depan, yang memicu kekhawatiran peneliti terkait peningkatan jumlah orang yang terancam cuaca ekstrem. Para ilmuwan mendesak adanya langkah adaptasi cepat dan upaya global untuk menekan dampak perubahan iklim guna menjaga keselamatan jemaah serta keaslian tradisi ibadah tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi