Delcy Rodriguez Tolak Rencana Donald Trump Jadikan Venezuela Negara Bagian AS

Delcy Rodriguez Tolak Rencana Donald Trump Jadikan Venezuela Negara Bagian AS

Presiden Pelaksana Venezuela Delcy Rodriguez secara tegas menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menjadikan negara di Amerika Selatan tersebut sebagai negara bagian ke-51 AS. Penegasan ini disampaikan Rodriguez di Den Haag pada Senin, 11 Mei 2026, menyusul intervensi militer AS yang menggulingkan Nicolas Maduro awal tahun ini.

Donald Trump mengklaim sedang mempertimbangkan secara serius langkah tersebut karena ketertarikan pada cadangan minyak Venezuela yang diperkirakan bernilai 40 triliun dolar AS. Dilansir dari Fox News, Trump menilai rakyat Venezuela menyukai kepemimpinannya dan menganggap operasional militer AS di sana sebagai sebuah kejeniusan militer.

"We will continue to defend our integrity, our sovereignty, our independence, our history," ujar Delcy Rodriguez, Presiden Pelaksana Venezuela.

Pemerintah transisi yang dipimpin Rodriguez menegaskan bahwa Venezuela bukanlah koloni, melainkan sebuah negara yang merdeka. Rodriguez menambahkan bahwa meski kedua negara terus menjalin komunikasi mengenai kerja sama dan pemahaman, kedaulatan tetap menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

"Venezuela loves Trump," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menyatakan bahwa sektor minyak Venezuela sedang dibangkitkan kembali di bawah pengelolaan pemerintahannya dengan ekspor mencapai lebih dari 1 juta barel per hari pada April lalu. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut bahwa banyak uang akan segera mengalir untuk membantu rakyat Venezuela melalui kemitraan baru ini.

"Good things are happening to Venezuela lately! I wonder what this magic is all about? STATEHOOD, #51, ANYONE?" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Menanggapi unggahan Trump di media sosial tersebut, Rodriguez menyatakan bahwa ide tersebut tidak akan pernah dipertimbangkan oleh rakyatnya. Ia menekankan bahwa pria dan wanita Venezuela sangat mencintai proses kemerdekaan serta para pahlawan nasional mereka.

"That would never have been considered, because if there is one thing we Venezuelan men and women have, it is that we love our independence process, we love our heroes and heroines of independence," ujar Delcy Rodriguez, Presiden Pelaksana Venezuela.

Selain masalah status kenegaraan, Rodriguez juga tengah menghadapi sengketa wilayah Essequibo dengan Guyana di Mahkamah Internasional (ICJ). Ia berpendapat bahwa perselisihan atas wilayah kaya mineral dan minyak tersebut harus diselesaikan melalui negosiasi politik berdasarkan Perjanjian Jenewa 1966, bukan melalui keputusan yudisial.

"At a time when the mechanisms established in the Geneva agreement were still fully in force, Guyana unilaterally chose to shift the dispute from the negotiating arena to a judicial resolution," ujar Delcy Rodriguez, Presiden Pelaksana Venezuela.

Rodriguez menuduh Guyana sengaja mengalihkan sengketa ke jalur hukum karena penemuan ladang minyak raksasa pada 2015. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Guyana Hugh Hilton Todd menyatakan bahwa klaim Venezuela telah menjadi beban bagi eksistensi kedaulatan negaranya sejak awal.

"This change was not accidental; it coincided with the discovery in 2015 of the oil field that would become world-renowned," ujar Delcy Rodriguez, Presiden Pelaksana Venezuela.

Di sisi lain, penasihat energi utama Trump, Jarrod Agen, menyebutkan bahwa saat ini Venezuela berada dalam fase stabilitas untuk memastikan kesepakatan energi tetap berjalan. Trump sendiri memproyeksikan perusahaan minyak AS akan menginvestasikan hingga 100 miliar dolar AS untuk membangun kembali infrastruktur energi di negara tersebut.

"Venezuela is a very happy country right now," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump mengklaim kondisi Venezuela telah berubah dari menyedihkan menjadi bahagia di bawah kendali AS saat ini. Ia memuji penggunaan anjungan minyak berukuran besar yang kini mulai beroperasi kembali setelah perusahaan-perusahaan besar seperti Exxon dan Conoco terusir hampir dua dekade lalu.

"They were miserable. Now they’re happy. It’s being well run," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Meskipun Trump terus menyuarakan ambisinya, secara hukum ia memerlukan persetujuan dari Kongres AS dan persetujuan resmi dari pihak Venezuela untuk melakukan aneksasi. Sekretaris Negara Marco Rubio sempat menyatakan kepada Kongres bahwa AS tidak sedang menyiapkan aksi militer lanjutan, namun retorika Trump tetap mengarah pada integrasi wilayah.

"The oil that’s coming out is enormous, the biggest in many years. And the big oil companies are going in with the biggest, most beautiful rigs you’ve ever seen," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sementara itu, pihak Guyana tetap bersikeras meminta pengadilan internasional untuk mengukuhkan keputusan arbitrase tahun 1899 yang menetapkan batas wilayah di Sungai Essequibo. Menteri Luar Negeri Guyana menekankan bahwa 70 persen wilayah negaranya kini sedang dipertaruhkan dalam persidangan ini.

"the dispute has been a blight on our existence as a sovereign state from the very beginning," ujar Hugh Hilton Todd, Menteri Luar Negeri Guyana.

Trump menutup pernyataannya dengan menegaskan fokus AS pada bisnis minyak internasional melalui pemanfaatan cadangan Venezuela. Mahkamah Internasional diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan sebelum mengeluarkan putusan akhir yang mengikat secara hukum terkait sengketa wilayah tersebut.

"We’re in the oil business," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi