Serangkaian serangan udara militer Rusia menewaskan sedikitnya 21 warga sipil di beberapa kota Ukraina pada Selasa (5/5/2026), di tengah persiapan kedua negara untuk melakukan gencatan senjata sementara guna memperingati Hari Kemenangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyambut baik rencana penghentian permusuhan tersebut, meski situasi di lapangan terus memanas dengan jatuhnya puluhan korban luka.
Data dari berbagai otoritas lokal menunjukkan sebaran korban jiwa meliputi 12 orang di Zaporizhzhia, lima orang di Kramatorsk, dan empat orang di Dnipro. Gubernur regional Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, mengonfirmasi dampak mematikan dari serangan tersebut melalui saluran komunikasi resminya.
"Rusia telah merenggut nyawa 12 orang (dalam serangan hari Selasa)," kata gubernur regional Zaporizhzhia, Ivan Fedorov.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras tindakan Moskow yang tetap meluncurkan rudal ke pusat kota bertepatan dengan upaya diplomasi gencatan senjata. Zelensky menekankan bahwa serangan itu sama sekali tidak memiliki pembenaran militer dan menargetkan warga sipil di tengah kota.
"Serangan itu tepat mengenai pusat kota, menargetkan warga sipil," kata Zelensky.
Pemimpin Ukraina tersebut juga menyoroti ironi antara aksi militer di lapangan dengan rencana perayaan yang diusung oleh pihak Rusia. Ia mendesak komunitas internasional untuk memberikan tekanan lebih kuat guna memastikan keamanan warga setiap hari.
"Kita membutuhkan keheningan dari serangan seperti ini setiap hari, bukan hanya beberapa jam untuk 'perayaan'," tegas Zelensky.
Zelensky kemudian menetapkan bahwa pihak Ukraina tetap akan memulai gencatan senjata sepihak mulai tengah malam waktu Kiev. Ia memberikan alasan bahwa nilai nyawa manusia jauh melampaui seremoni apa pun yang sedang dipersiapkan.
"nyawa manusia jauh lebih berharga daripada perayaan apa pun" kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Di sisi lain, juru bicara PBB Stephane Dujarric menyatakan bahwa Sekretaris Jenderal Antonio Guterres berharap pelaksanaan jeda pertempuran ini dapat berjalan sukses. PBB mencatat adanya perbedaan jadwal, di mana Ukraina memulai pada malam tanggal 5 Mei, sementara Federasi Rusia menjadwalkan gencatan senjata pada 8 dan 9 Mei.
"Kami menyambut baik gencatan senjata sepihak yang diumumkan oleh Ukraina, yang akan dimulai pada malam tanggal 5 hingga 6 Mei, serta gencatan senjata oleh Federasi Rusia, yang akan berlangsung pada tanggal 8 dan 9 Mei,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.
Dujarric menambahkan pesan dari Sekjen PBB yang tetap menuntut adanya perdamaian yang lebih permanen. Hal ini merujuk pada prinsip-prinsip yang tertuang dalam hukum internasional dan berbagai resolusi organisasi dunia tersebut.
“Sekretaris Jenderal menegaskan kembali seruannya untuk gencatan senjata penuh, segera, tanpa syarat, dan berkelanjutan, yang mengarah pada perdamaian yang adil, menyeluruh, dan berkelanjutan, sesuai dengan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB yang relevan,” ujarnya.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melalui pengumuman di aplikasi MAX menegaskan bahwa instruksi gencatan senjata 8-9 Mei datang langsung dari Presiden Vladimir Putin. Mereka mengharapkan Ukraina mengikuti langkah tersebut untuk menghormati sejarah Perang Dunia II.
"Sesuai dengan keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia, Vladimir Putin, gencatan senjata telah diumumkan mulai 8-9 Mei 2026. Kami berharap pihak Ukraina akan mengikuti," kata Kementerian Pertahanan Rusia.
Pengumuman ini juga memuat peringatan keras dari Moskow mengenai risiko serangan balasan berskala besar jika terjadi gangguan selama periode perayaan tersebut. Rusia mengimbau penduduk di Kiev untuk mempertimbangkan evakuasi jika situasi memburuk akibat pelanggaran komitmen.