Satpol PP DKI Jakarta Melarang Aktivitas Nongkrong di Flyover Pasar Rebo

Satpol PP DKI Jakarta Melarang Aktivitas Nongkrong di Flyover Pasar Rebo

Aktivitas warga yang berkumpul dan nongkrong di atas Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, kini menjadi perhatian serius dari aparat pemerintah. Fasilitas jembatan layang yang kerap dijadikan tempat singgah murah pada sore hingga malam hari tersebut dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Seperti dikutip dari Megapolitan, fenomena ini marak terjadi menjelang waktu Maghrib, seperti yang terpantau pada Jumat (15/5/2026). Banyak pengendara memilih menepi untuk sekadar duduk di atas motor, menikmati kopi sachet, atau melihat pemandangan lampu kota dari ketinggian.

Sedikitnya ada tujuh pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman di area tersebut. Bagi sebagian besar pengendara yang singgah, jembatan layang ini dianggap sebagai alternatif ruang publik yang gratis dan mudah dijangkau di tengah penatnya aktivitas kota.

Seorang pekerja asal Depok bernama Aan (20) mengaku sering berhenti di lokasi tersebut sepulang kerja dari kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Ia menjelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama memilih tempat ini dibandingkan dengan kafe komersial.

"Biasanya sama teman kerja atau teman motoran Kadang berdua kadang rame ramai kalau pas sama sama pulang. Paling ramai biasanya habis maghrib sampai sekitar jam 22.00 WIB malam," kata Aan saat ditemui di Flyover Pasar Rebo, Jumat.

"Karena gratis sih. Kalau habis kerja kadang sudah capek pengin duduk santai aja sambil ngobrol Kalau ke kafe kan pasti keluar uang lagi. Di sini tinggal beli kopi goceng (Rp 5.000) bawa rokok juga udah bisa nongkrong lama," ujar dia.

"Pengaruh banget seekarang nongkrong di kafe bisa habis lumayan. Sekali nongkrong bisa Rp 50.000 lebih Jadi tempat kayak gini lebih masuk buat kantong," katanya.

"Dari atas kan kelihatan lampu kendaraan suasananya ramai, tapi tetap terasa santai jadi kayak ada suasana sendiri aja. Kadang kalau habis kerja penat nongkrong di sini bikin rileks," tuturnya.

"Paling ngopi denger musik dari speaker lihat kendaraan lewat kadang foto foto juga. Ada juga yang cuma duduk main HP sambil istirahat sebelum lanjut jalan pulang," kata dia.

Pengendara lainnya, Endra (23), menjadikan lokasi ini sebagai pelarian seminggu sekali ketika merasa suntuk sebelum memasuki kawasan tempat tinggalnya di Depok. Keberadaan kerumunan orang banyak justru membuatnya merasa tidak kesepian.

"Sebenernya saya enggak terlalu sering nongkrong kayak yang tiap hari gitu. Paling seminggu sekali atau kalau lagi suntuk aja pulang kerja. Jadi sebelum masuk Depok nih istirahat dulu di sini," kata Endra saat ditemui di flyover Pasar Rebo, Jumat.

"Jadi walaupun enggak kenal, suasananya kayak ramai bareng aja. Kadang ada komunitas motor juga, ada yang cuma duduk duduk," katanya.

Sementara itu, Rifki (24) mengaku sengaja datang untuk menikmati sudut pandang kota Jakarta yang sibuk dari ketinggian. Menurutnya, pemandangan arus lalu lintas yang padat memberikan sensasi tersendiri.

"Kalau di kafe kan suasananya itu itu aja. Kalau di flyover tuh kita bisa lihat langsung suasana kota, kendaraan, lampu lampu, orang pada pulang kerja," kata Rifki saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat.

"Saya suka lihat macetnya Jakarta dari atas. Kedengarannya aneh sih, tapi ada sensasi sendiri lihat kendaraan panjang gitu macet macetan, lampu merah, klakson, terus langit sore," ujar dia.

Meski digemari, para warga ini sebenarnya menyadari adanya risiko bahaya yang mengintai. Lokasi yang berada di tengah jalur cepat dengan embusan angin malam yang kencang memicu potensi kecelakaan yang cukup besar.

"Tahu sih sebenarnya bukan tempat buat nongkrong. Makanya biasanya juga enggak terlalu lama atau bikin ramai banget," kata Rifki.

"Bahaya juga karena kendaraan banyak lewat. Kadang motor kebut kebutan juga karena satu arah kan. Makanya biasanya kita cari spot yang enggak terlalu dekat jalan," kata Aan.

"Sebenernya tahu sih bahaya. Apalagi kendaraan kencang terus kadang anginnya juga besar kalau malam. Cuma ya mungkin karena sudah banyak yang nongkrong jadi terasa biasa aja," tutur Endra.

Di sisi lain, keramaian ini menjadi ladang nafkah bagi pedagang minuman sachet seperti Alba (35). Ia mengaku bisa meraup omzet kotor sekitar Rp 250.000 per hari, terutama saat akhir pekan atau ketika cuaca sedang cerah.

"Kalau malam ada aja yang bikin ramai. Orang nongkrong, lewat-lewat, jadi tetap ada yang beli," kata Alba saat ditemui di lokasi, Jumat.

"Iya, biasanya malam Minggu lebih ramai. Apalagi kalau cuaca lagi cerah, orang makin banyak yang nongkrong di sini. Alhamdulillah ada aja pembeli," katanya.

"Ya perhari ada dah Rp 250.000 mah tapi itu engga bersih ya, kan buat modal besok jualan lagi juga," kata dia.

Ujang (42), seorang pedagang siomay yang sudah menetap di sana selama empat tahun, juga merasakan dampak positif terhadap pendapatannya. Keberadaan tempat berkumpul ini diakuinya membuka peluang ekonomi untuk bertahan hidup.

"Kalau saya jualan di sini kurang lebih sudah empat tahunan. Awalnya mah keliling dulu bawa gerobak tuh di bawah, terus akhirnya sering mangkal di sini karena ramai," kata Ujang di flyover Pasar Rebo, Jumat.

"Pengaruh pasti ada. Soalnya kalau mereka nongkrong lama biasanya jadi lapar juga. Jadi yang beli siomay lumayan banyak," kata dia.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai fenomena ini muncul akibat terbatasnya ruang publik gratis di Jakarta. Karakter anak muda yang mencari kebebasan sosial tanpa beban biaya membuat jembatan layang menjadi pilihan yang dinilai masuk akal.

"Selain gratis, tentunya tempat terbuka dan kalau tempat terbuka sama seperti taman sebenarnya, tapi kan sekali lagi di perkotaan taman ini sangat kurang," kata Rissalwan saat dihubungi melalui WhatsApp, Jumat.

"Tapi di flyover itu kan kemudian dia bisa menyaksikan kemacetan di bawah dan sebagainya. Tentunya daya takiknya adalah aktivitasnya selain mereka ngumpul, ngobrol, nongkrong di situ, tapi bisa juga menyaksikan denyut ibu kota yang ramai dan sebagainya," ujarnya.

Kendati demikian, Rissalwan mengingatkan pentingnya menjaga batasan antara pemenuhan kebutuhan sosial dan keselamatan publik. Sektor keamanan tidak boleh diabaikan demi mencegah timbulnya risiko baru bagi pengguna jalan.

Ketegasan Regulasi dan Sanksi Hukum

Merespons fenomena tersebut, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menegaskan bahwa area jembatan layang dilarang keras untuk aktivitas berkumpul. Fungsi utama infrastruktur tersebut adalah untuk kelancaran arus lalu lintas.

"Ya, sebenarnya prinsipnya itu kan tidak diperbolehkan parkir sebarangan apalagi menggunakan trotoar atau bahu jalan yang bisa mengganggu jalan keselamatan dan lalu lintas kan enggak boleh," kata Satriadi kepada Kompas.com melalui panggilan telepon, Senin (18/5/2026).

"Betul, pasti kita nanti akan lakukan patroli rutin untuk kita gebah-gebah, tapi untuk dia kita larang," kata dia.

"Ya kalau fungsi jalan kan buat lalu lintas, bukan tempat parkir kan jadi yang pasti mengganggu lah resiko tertabrak, menabrak, atau ditabrak," tutur dia.

Satriadi menyatakan petugas akan terus menggelar patroli rutin guna menertibkan para pedagang dan pengendara. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya fatal dari aktivitas tersebut.

Secara hukum, tindakan berhenti di jembatan layang melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pelanggaran tata cara parkir terancam pidana kurungan maksimal satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.

Lebih lanjut, jika kelalaian berhenti sembarangan menyebabkan kecelakaan dengan kerusakan kendaraan, pengendara dapat dipidana hingga enam bulan atau denda Rp 1 juta sesuai Pasal 310 Ayat (1). Jika insiden tersebut mengakibatkan korban luka, Pasal 310 Ayat (2) mengatur sanksi pidana hingga satu tahun atau denda maksimal Rp 2 juta.

Artikel terkait

Rekomendasi