Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait resmi memulihkan akses pangkalan militer serta wilayah udara bagi Amerika Serikat pada Jumat, 8 Mei 2026. Langkah diplomatik ini diambil untuk mendukung kelanjutan operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz yang sempat terhenti akibat ketegangan dengan Iran.
Keputusan tersebut muncul setelah sempat terjadi ketegangan diplomatik yang membuat Presiden AS Donald Trump menangguhkan operasi pengawalan bertajuk "Project Freedom" pada Selasa, 5 Mei 2026. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, koordinasi sempat buntu sebelum akhirnya kesepakatan baru tercapai melalui komunikasi tingkat tinggi.
Pejabat di Riyadh mengungkapkan bahwa pembatasan sebelumnya diberlakukan karena kekhawatiran negara Teluk terhadap potensi pembalasan Iran. Selain itu, terdapat persepsi bahwa Washington kurang memberikan jaminan perlindungan keamanan jika konflik bersenjata di kawasan semakin meluas.
Di tengah persiapan peluncuran kembali operasi keamanan maritim tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan penegasan mengenai kesiapan armada tempur mereka di titik strategis tersebut.
"Sebagai hadiah langsung dari Amerika Serikat untuk dunia, kami telah membangun kubah merah, putih, dan biru yang kuat di atas selat itu," kata Hegseth.
Hegseth menjelaskan bahwa kekuatan militer yang dikerahkan mencakup berbagai lini pertahanan untuk memastikan jalur perdagangan tetap terbuka bagi kapal-kapal komersial.
"Kapal perusak Amerika telah bersiaga, didukung ratusan jet tempur, helikopter, drone, dan pesawat pengintai yang memberikan pengawasan 24 jam bagi kapal dagang yang melintas dengan damai," tambah Hegseth.
Situasi keamanan di kawasan terus memanas setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal gelombang ke-41 pada Kamis, 12 Maret 2026. Serangan tersebut menyasar aset-aset strategis di Uni Emirat Arab (UEA), Irak, dan Kuwait sebagai balasan atas keterlibatan militer Barat.
Meskipun operasi sempat memicu bentrokan fisik di laut, militer AS mengeklaim telah berhasil menghalau sejumlah ancaman. Dalam hitungan jam setelah Project Freedom berjalan singkat, pasukan AS melaporkan telah mencegat serangan rudal serta menenggelamkan enam kapal cepat milik Iran.
Namun, pihak Iran secara resmi membantah telah melakukan operasi militer langsung terhadap Uni Emirat Arab di pusat minyak Fujairah. Meski demikian, Teheran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangga terkait penggunaan wilayah mereka oleh pasukan asing.
Iran memperingatkan akan memberikan "respons menghancurkan" bila ada tindakan dari musuh terhadapnya yang diluncurkan dari negara Teluk tersebut.
Saat ini, Pentagon sedang mengevaluasi jadwal terbaru untuk mengarahkan kapal dagang melewati jalur sempit yang telah dibersihkan dari ranjau laut. Pengawalan ketat oleh kapal perang dan pesawat tempur diproyeksikan menjadi standar baru dalam navigasi di Selat Hormuz.