SBY Dorong Sinergi Nasional Hadapi Dinamika Ekonomi Kurang Menggembirakan

SBY Dorong Sinergi Nasional Hadapi Dinamika Ekonomi Kurang Menggembirakan

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti dinamika pasar modal dan uang nasional yang dinilai kurang menggembirakan pada Selasa (12/5/2026). Ia menekankan perlunya langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan untuk mencegah tekanan ekonomi yang lebih berat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Situasi ekonomi terkini menunjukkan pelemahan signifikan pada nilai tukar rupiah dan indeks saham. Dilansir dari Nasional, kurs rupiah di pasar spot hampir menyentuh angka Rp17.500 per dollar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi ke level 6.858,90 pada penutupan perdagangan hari tersebut.

Melalui pernyataan resminya, SBY memaparkan bahwa meskipun kondisi pasar sedang tertekan, Indonesia masih memiliki modal politik dan ekonomi untuk mencari solusi. Ia meyakini bahwa berbagai opsi kebijakan masih terbuka lebar bagi pemerintah untuk menstabilkan keadaan.

"Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki political & economic resources. Opsi & solusi masih tersedia," ujar SBY, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

SBY mendorong adanya kesatuan visi antara pemerintah, pelaku usaha, dan para ahli ekonomi. Penegasan mengenai pentingnya rasa saling percaya antar pihak menjadi poin utama yang disampaikan olehnya demi menjaga stabilitas nasional.

"In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama," ujar SBY, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Ia juga mengajak masyarakat luas untuk tetap optimis menghadapi tantangan ekonomi ini. Ajakan untuk memberikan ruang bagi pemerintah dalam bekerja menjadi penutup dalam pernyataan yang disampaikan saat ia berada di Magelang tersebut.

"Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia bisa," sambung SBY, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Data pasar dari Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 0,37 persen ke posisi Rp17.479 per dollar AS pada pembukaan perdagangan. Tren penurunan ini sejalan dengan tekanan yang dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap dollar AS pada periode yang sama.

Kondisi serupa terjadi di lantai bursa dengan penurunan IHSG sebesar 46,72 poin atau 0,68 persen. Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan mencatatkan volume transaksi hingga 31,08 miliar lembar saham dengan frekuensi mencapai 2,514 juta kali transaksi.

Artikel terkait

Rekomendasi