Mengenal Sejarah Kiswah Ka'bah dan Rahasia Kain Sutra Hitam

Mengenal Sejarah Kiswah Ka'bah dan Rahasia Kain Sutra Hitam

Kemegahan Masjidil Haram selalu dihiasi oleh kain hitam pekat bersulam benang emas yang menyelimuti Ka’bah. Kain penutup bernama kiswah tersebut bukan sekadar hiasan estetis, melainkan simbol penghormatan, kemuliaan, serta rekam jejak peradaban Islam, seperti dilansir dari Cahaya.

Tradisi penggantian kiswah berlangsung setiap tahun pada 9 Dzulhijjah, bertepatan saat jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Perjalanan sejarahnya sangat panjang, bertransformasi dari bahan sederhana hingga menjadi kain sutra mewah bernilai spiritual tinggi.

Tradisi menutup Ka’bah sudah berjalan jauh sebelum masa Islam. Beberapa riwayat menyebutkan Nabi Ismail AS sebagai figur pertama yang melakukannya, tetapi catatan sejarah terbesar mengarah pada Raja Himyariyah dari Yaman, Abu Karb As’ad atau Tubba’.

Raja As’ad mendapatkan mimpi untuk menyelimuti Baitullah saat kembali dari Yatsrib. Ketika melewati Makkah, ia mewujudkan mimpi itu dengan menutup bangunan suci menggunakan jalinan kulit dan kain kasar khas Yaman.

Ada juga riwayat yang menyatakan penutup awal menggunakan daun kurma serta kain Ma’afir yang beraroma wangi. Karena beban kain tersebut dinilai terlalu berat, masyarakat menggantinya dengan kain tenun Yaman yang berbobot lebih ringan.

Evolusi Sutra dan Peran Perempuan Pertama

Berbagai suku Arab kemudian berlomba memberikan kain terbaik untuk Ka’bah sebagai wujud pengabdian tertinggi. Buyut Nabi Muhammad SAW, Qushay bin Kilab, menginisiasi sistem pengumpulan dana dari suku Quraisy agar kiswah dapat diperbarui setiap tahun secara rutin.

Penggunaan kain sutra pertama kali tercatat lewat peran Natilah binti Janab, ibu dari Abbas bin Abdul Muthalib. Awalnya, ia bernazar akan menyelimuti Ka’bah dengan sutra jika putranya yang sempat hilang berhasil ditemukan kembali.

Setelah penemuan Abbas, Natilah segera menunaikan nazarnya tersebut. Peristiwa ini menjadi tonggak awal masuknya bahan sutra dalam sejarah kiswah, sebelum akhirnya para khalifah menggunakan kain putih Mesir hingga brokat merah.

Warna Kiswah dari Masa ke Masa

Warna penutup Ka’bah mengalami banyak perubahan dari era ke era, mulai dari putih, hijau, merah, hingga kombinasi garis merah-putih pada masa Rasulullah SAW setelah peristiwa Fathu Makkah.

“Ka’bah pernah ditutup dengan kain putih, merah, dan hitam. Pemilihan warna tersebut berdasarkan kondisi finansial dan kualitas bahan pada masa itu,” ujar Direktur Pusat Sejarah Makkah, Fawaz al-Dahas.

Kain berwarna putih dinilai sangat indah, tetapi memiliki kelemahan karena cepat kotor akibat sering disentuh oleh jemaah. Akhirnya, pada masa akhir Dinasti Abbasiyah, dipilihlah warna hitam karena dinilai memiliki daya tahan paling baik dan awet.

Produksi Modern dan Detail Teknologi

Mesir sempat menjadi pusat utama produksi kiswah selama berabad-abad, bahkan memiliki pabrik khusus di Kairo sejak era Dinasti Fatimiyah. Namun, setelah Kerajaan Arab Saudi berdiri, Raja Abdul Aziz mengalihkan seluruh proses produksi ke dalam negeri.

Saat ini, pembuatan kiswah dikelola oleh Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah di Umm al-Joud, Makkah. Ratusan pengrajin dikerahkan untuk merakit kain secara manual dibantu dengan pemanfaatan teknologi modern.

Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, satu buah kiswah membutuhkan 670 kilogram sutra hitam, 120 kilogram benang emas, dan 100 kilogram benang perak. Total biaya produksinya ditaksir mencapai lebih dari 17 juta riyal Saudi.

Alasan Penggantian Rutin Setiap Tahun

Penggantian rutin dilakukan demi menjaga kualitas kain dan kesucian bangunan. Pada masa Dinasti Umayyah, kiswah baru selalu ditumpuk di atas kain lama sehingga struktur bangunan menahan beban yang sangat berat.

Melihat kondisi tersebut, Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah mengeluarkan perintah untuk melepas kain lama sebelum memasang kain baru. Aturan ini terus dijaga hingga sekarang sebagai simbol pembaruan spiritual umat Islam dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi