Sejarah Kota Madinah Sebelum Islam dan Proses Hijrah Rasulullah SAW

Sejarah Kota Madinah Sebelum Islam dan Proses Hijrah Rasulullah SAW

Sebelum dikenal dengan nama Madinah, wilayah tersebut memiliki nama asli Yatsrib. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang didominasi oleh penganut agama Yahudi jauh sebelum syiar Islam menyentuh kawasan tersebut.

Dilansir dari Detikcom, etnis Yahudi mulai mendominasi Yatsrib sejak abad ke-1 dan ke-2 Masehi. Mereka merupakan imigran dari wilayah utara yang melarikan diri untuk menghindari penindasan serta penjajahan Romawi.

Migrasi besar-besaran bangsa Yahudi ke Yatsrib tercatat terjadi pada rentang tahun 132 hingga 135 Masehi. Kelompok ini terdiri dari beberapa suku besar seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Gathafan, dan Bani Quraidlah.

Selain etnis Yahudi, penduduk Yatsrib juga berasal dari etnis Arab, baik dari wilayah Utara maupun Selatan. Pada masa itu, masyarakat menganut beragam kepercayaan mulai dari Yahudi, Nasrani, hingga Pagan, namun Yahudi menjadi mayoritas.

Keempat suku Yahudi utama tetap memegang teguh keyakinan mereka meskipun ajaran Islam mulai tersebar luas di Madinah. Sebagian dari mereka bahkan menjalin kerja sama dengan kaum kafir Quraisy untuk menentang dakwah Rasulullah SAW.

Ketegangan ini akhirnya berujung pada tindakan tegas Nabi Muhammad SAW. Beliau memutuskan untuk mengusir kelompok yang menentang tersebut hingga wilayah Madinah sepenuhnya bersih dari pengaruh bangsa Yahudi.

Kronologi Hijrah dan Perlawanan Quraisy

Proses perubahan Yatsrib menjadi pusat Islam dimulai saat Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam di Makkah untuk berhijrah. Langkah ini diambil setelah kaum kafir Quraisy meningkatkan tekanan dan kekejaman mereka.

Hampir seluruh umat Islam berangkat menuju Yatsrib, menyisakan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib yang tetap menemani Nabi di Makkah. Mereka menunggu perintah resmi dari Allah SWT untuk memulai perjalanan hijrah.

Kaum Quraisy yang mengetahui rencana tersebut segera mengepung rumah Nabi untuk melakukan pembunuhan. Namun, Nabi Muhammad SAW memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya guna mengelabui para pengepung.

Nabi berhasil keluar dari rumah tanpa terdeteksi dan bertemu dengan Abu Bakar. Keduanya memilih jalur selatan menuju Madinah sebagai strategi untuk menyesatkan kejaran para pemburu dari kaum Quraisy.

Pengejaran Suraqah bin Malik

Marah karena merasa tertipu, kaum Quraisy menjanjikan hadiah seratus ekor unta bagi siapa saja yang mampu menangkap Nabi Muhammad SAW. Suraqah bin Malik menjadi salah satu orang yang mencoba mengejar rombongan tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Suraqah hampir berhasil mendekati posisi Nabi, namun kuda yang ditungganginya terjatuh berkali-kali secara ajaib. Puncaknya, kaki kuda Suraqah amblas ke dalam tanah dan mengeluarkan debu yang membumbung tinggi saat ditarik keluar.

Kejadian tersebut menyadarkan Suraqah bahwa sosok yang dikejarnya dilindungi oleh kekuatan Tuhan. Ia pun mengurungkan niat jahatnya, meminta maaf, dan menawarkan bantuan perbekalan kepada rombongan Nabi.

Nabi Muhammad SAW memaafkan Suraqah namun menolak pemberian perbekalan tersebut. Beliau hanya meminta Suraqah untuk merahasiakan pertemuan mereka agar perjalanan menuju Madinah tetap aman dari gangguan pengejar lainnya.

Pembangunan Masjid Pertama

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh hari, rombongan Rasulullah SAW akhirnya tiba di wilayah Quba. Di lokasi ini, Nabi menetap selama beberapa malam dan membangun sebuah masjid yang menjadi masjid pertama dalam sejarah Islam.

Setibanya di pusat kota Madinah, langkah prioritas yang dilakukan Nabi adalah menentukan lokasi pembangunan tempat ibadah. Lokasi yang dipilih tersebut kini berdiri tegak sebagai Masjid Nabawi yang menjadi jantung peradaban Islam di Madinah.

Artikel terkait

Rekomendasi