Masjidil Haram di Makkah menyimpan kekayaan sejarah peradaban Islam yang mendalam di balik kemegahan arsitekturnya. Salah satu titik paling istimewa adalah sebuah area yang diyakini sebagai lokasi berdirinya rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kawasan bersejarah tersebut kini tidak lagi berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan telah dialihfungsikan menjadi sebuah perpustakaan publik. Seperti dilansir dari Detikcom, bangunan ini dikenal luas dengan nama Maktabah Makkah Al-Mukarramah.
Rumah kelahiran Rasulullah ini merujuk pada kediaman Abdul Muthalib, kakek beliau. Sejarawan Husein Haykal, mengutip pendapat Caussin de Percevel, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah pada Agustus tahun 570 M.
Lokasi yang dulunya dikenal sebagai lembah Abu Thalib ini memiliki sejarah kepemilikan yang panjang. Setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, rumah tersebut ditempati oleh Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya sebelum akhirnya dibeli oleh Khaizuran.
Al-Khaizuran, yang merupakan ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid, sempat membangun sebuah masjid di lokasi tersebut. Namun, bangunan itu kemudian diruntuhkan dan diubah menjadi perpustakaan oleh Syekh Abbas Ottoman pada tahun 1370 H atau sekitar tahun 1950 M.
Keputusan mengubah rumah tersebut menjadi perpustakaan diambil sebagai langkah preventif. Hal ini dilakukan demi menghindari praktik pemujaan berlebihan oleh sebagian umat Islam terhadap lokasi fisik tempat kelahiran Nabi.
Pemerintah Arab Saudi dan kalangan Wahabi sebelumnya sempat berencana menghancurkan bangunan tersebut. Alasan utamanya adalah untuk perluasan area Masjidil Haram serta mencegah tempat tersebut dijadikan sebagai berhala baru, meski rencana penghancuran akhirnya dibatalkan.
Kini, Maktabah Makkah Al-Mukarramah berdiri sebagai bangunan sederhana berukuran sekitar 10 x 18 meter. Penampilannya tampak sangat bersahaja jika dibandingkan dengan gedung-gedung pencakar langit yang kini mengepung area suci tersebut.
Pengunjung dapat mengenali bangunan ini dari tulisan Maktabah Makkah al-Mukarramah yang tertera di bagian depan. Pemerintah setempat terkadang tetap mengunci bangunan ini untuk memastikan tidak ada aktivitas pemujaan di dalamnya.
Secara tata letak, sisi kiri bangunan berbatasan dengan gudang penyimpanan barang yang sudah tidak terpakai. Sementara itu, sisi kanan bangunan ini berhadapan langsung dengan area pengambilan air zam-zam.
Bagian belakang perpustakaan bersentuhan langsung dengan akses jalan yang sering dilalui jemaah haji maupun umrah. Jalur tersebut menjadi rute utama bagi masyarakat yang hendak menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah.