Firda Budhiardjo (41) menginisiasi pembangunan TK Inspirasi Indonesia di tengah permukiman pemulung Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat, pada Selasa (5/5/2026) untuk memfasilitasi pendidikan anak kurang mampu. Sekolah ini menjadi tumpuan bagi keluarga pekerja serabutan agar anak-anak mereka mendapatkan akses belajar secara cuma-cuma.
Lembaga pendidikan ini pertama kali berdiri pada tahun 2017 dengan kondisi fisik bangunan yang awalnya hanya berupa bedeng kayu. Dilansir dari Megapolitan, meskipun saat ini bangunan telah melalui proses renovasi, kesan kesederhanaan masih menyelimuti ruang kelas berukuran 3x4 meter yang dilengkapi kursi plastik warna-warni tersebut.
Pendiri sekolah, Firda Budhiardjo, menjelaskan bahwa lokasi sekolah menempati lahan milik asisten rumah tangganya di area yang didominasi tumpukan barang bekas. Aktivitas belajar di tempat ini dibagi menjadi dua sesi setiap pagi guna mengakomodasi seluruh siswa.
“Dulunya masih bedeng dan ala kadarnya. Alhamdulillah sekarang sudah renovasi, jadi lebih nyaman untuk anak-anak belajar,” ujar Firda.
Meskipun tidak dipungut biaya, kurikulum yang diterapkan diklaim tetap mengikuti standar pendidikan anak usia dini pada umumnya. Firda memastikan anak-anak mendapatkan materi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung) setiap hari.
“Alhamdulillah di TK Inspirasi Indonesia kurikulumnya sama dengan sekolah-sekolah yang berbayar,” kata Firda.
Satu-satunya tenaga pendidik yang mengabdi di sekolah ini adalah Lia Sri Mulyani (40). Setiap harinya, ia mengelola puluhan siswa seorang diri dengan upah bulanan yang jauh di bawah standar gaji profesional.
“Saya dulu pernah dapat bayaran Rp 2 juta per bulan, terus pernah juga tidak sama sekali. Nah, sekarang tiap bulan dapat Rp 300.000,” ujarnya.
Lia menyebutkan saat ini terdapat 25 siswa aktif yang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ia mengakui tantangan terbesar adalah menghadapi karakteristik anak-anak di lingkungan tersebut yang sangat ekspresif secara fisik dan verbal.
“Tantangannya banyak sekali. Soalnya anak-anak di sini aktif banget dalam gerakan dan berbicara. Jadi kami harus sabar,” kata Lia.
Sebagai strategi pengajaran, Lia menempatkan siswa yang paling aktif di barisan terdepan agar lebih mudah diawasi. Kegembiraan muncul saat ia melihat perkembangan kemampuan anak didik dalam menguasai materi dasar meski di tengah keterbatasan fasilitas.
“Saya senang karena bisa mengajarkan anak-anak mewarnai, menulis, membaca, calistung, meskipun di sini gratis,” tuturnya.
Keputusan Lia untuk menjadi guru bermula dari pengalamannya sebagai orang tua siswa di sekolah tersebut. Dorongan untuk berkontribusi muncul setelah melihat antusiasme anak-anak di sekitar tempat tinggalnya untuk bersekolah.
“Saya senang lihat anak-anak di sini rajin sekolah. Jadi saya ingin sekalian mengajar juga,” ucapnya.
Lia yang memiliki latar belakang pendidikan dasar secara konsisten meningkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan PAUD. Baginya, kemampuan dasar seperti literasi dan numerasi adalah tameng utama agar anak-anak di lingkungan pemulung tidak mudah dieksploitasi oleh pihak lain.
“Pendidikan itu sangat penting. Kalau kita bisa baca, kita tidak akan tersesat. Kalau bisa berhitung, tidak akan mudah ditipu. Kalau tidak berpendidikan, kita bisa dibodohi orang,” ujarnya.
Semangat pengabdian ini tetap terjaga meskipun Lia terkadang menghadapi pandangan sebelah mata dari orang di sekitarnya. Hal tersebut justru menjadi motivasi tambahan baginya untuk terus mengajar di TK Inspirasi Indonesia.
“Saya juga tidak pernah menyerah meski pernah disepelekan. Tapi saya malah jadi lebih semangat,” tambahnya.