Serangan Iran Hancurkan Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Serangan Iran Hancurkan Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Sejumlah pangkalan militer dan udara Amerika Serikat di beberapa negara Teluk dilaporkan hancur lebur akibat serangan rudal serta drone yang diluncurkan oleh Iran. Rentetan serangan tersebut menyasar fasilitas strategis dan menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai miliaran dolar AS.

Laporan khusus media AS NBC News mengungkapkan bahwa serangan Teheran berhasil melumpuhkan infrastruktur vital, mulai dari landasan pacu pesawat hingga sistem radar canggih. Selain itu, puluhan pesawat, gudang logistik, pusat komando, hanggar, dan infrastruktur satelit komunikasi di berbagai negara Timur Tengah turut mengalami kerusakan parah.

Data dari Middle East Monitor merinci lokasi-lokasi yang terdampak, termasuk Pangkalan Camp Buehring di Kuwait serta pangkalan Al Dhafra dan Al Ruwais di Uni Emirat Arab. Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, serta fasilitas pelabuhan di Kuwait.

Gedung utama pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain bahkan mengalami kerusakan berat dengan estimasi biaya perbaikan mencapai US$200 juta. Fasilitas yang rusak di pangkalan tersebut mencakup sepasang sistem pertahanan udara milik Amerika Serikat.

Mantan duta besar AS untuk Turki dan Irak, James Jeffrey, memberikan pandangannya melalui laman The Washington Institute mengenai keberadaan pangkalan-pangkalan tersebut. Ia menilai fasilitas militer tersebut kini menjadi sasaran empuk bagi kekuatan militer lawan.

"AS memulai pembangunan pangkalan besar-besaran di negara-negara Teluk setelah Perang Kuwait dengan asumsi bahwa pangkalan Amerika di suatu negara akan mencegah serangan darat besar-besaran dengan memberi sinyal tekad Amerika (dan kebutuhan akan pasukan yang berisiko) untuk membela negara tempat pangkalan tersebut berada," kata Jeffrey.

Meskipun awalnya dibangun untuk pencegahan, pangkalan-pangkalan tersebut kemudian dikonfigurasi ulang menjadi pusat logistik udara untuk operasi di Afghanistan, Irak, dan Suriah. Jeffrey menyoroti bahwa fungsi utama untuk membendung pengaruh Iran justru tidak berjalan efektif di lapangan.

"Namun, pangkalan-pangkalan ini tidak hanya gagal mencegah Iran untuk secara efektif menyerang negara-negara tempat pangkalan tersebut berada dari udara, tetapi pangkalan-pangkalan itu sendiri telah menjadi magnet bagi aksi militer Iran. Sebab, Iran terus menyasar pangkalan-pangkalan militer tersebut," tulis Jeffrey.

Jeffrey menambahkan bahwa perubahan strategi yang sering terjadi dalam pemerintahan AS menunjukkan adanya masalah unik dalam kebijakan luar negeri. Hal ini ia kaitkan dengan pola yang terlihat pada perang-perang Amerika sebelumnya di Vietnam dan Afghanistan sebagai masalah inheren dalam pemikiran militer Washington.

Artikel terkait

Rekomendasi