Militer Israel meluncurkan agresi udara di Jalur Gaza yang menewaskan komandan senior sekaligus pemimpin sayap militer Hamas, Izz al-Din al-Haddad, pada Jumat (15/5/2026). Dilansir dari Kompas, serangan tersebut juga merenggut nyawa istri, putri, serta empat warga Palestina lainnya di lokasi kejadian.
Kematian al-Haddad mengonfirmasi duka mendalam bagi pihak keluarga yang sebelumnya telah kehilangan dua putra mereka pada fase awal pertempuran. Pada Sabtu (16/5/2026), ribuan pelayat melepas jenazah al-Haddad dalam prosesi pemakaman emosional di Kota Gaza dengan balutan bendera Palestina dan Hamas.
Al-Haddad merupakan figur kunci yang bergabung sejak awal berdirinya Hamas pada dekade 1980-an. Ia menduduki posisi di Dewan Militer Tertinggi Hamas dan pernah memimpin seksi Majd dalam Brigade Al-Qassam untuk menjaga keamanan internal Gaza.
Di kubu seberang, tentara Israel menuding al-Haddad sebagai salah satu perencana operasi 7 Oktober 2023 yang tersisa. Pihak Israel juga mengklaim adanya penggunaan tawanan sebagai perisai manusia di wilayah padat penduduk tersebut.
"operasi signifikan" kata Kepala Staf Militer Israel.
Pimpinan militer tersebut menegaskan bahwa pihaknya bakal terus melakukan pengejaran terhadap tokoh-tokoh perlawanan Palestina lainnya.
Insiden pembunuhan ini terjadi saat kondisi gencatan senjata yang disepakati sejak Oktober lalu semakin rapuh. Hambatan diplomasi muncul akibat tuntutan pelucutan senjata Hamas oleh Israel, di mana kedua pihak saling melempar tuduhan pelanggaran.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan lebih dari 850 warga Palestina tewas setelah status gencatan senjata dinyatakan berlaku. Secara akumulatif, lembaga medis independen tersebut mencatat agresi balasan Israel telah menewaskan lebih dari 72.700 orang di Gaza.
Eskalasi kekerasan juga meluas ke Tepi Barat melalui tindakan aparat keamanan dan pemukim ilegal Yahudi. Pasukan Israel menembak mati Hassan Fayyad (34) di kamp pengungsi Jenin pada Sabtu, serta seorang remaja 15 tahun di Lubban Timur pada Kamis sebelumnya.
Aksi pembakaran satu unit masjid dan beberapa kendaraan warga oleh kelompok pemukim ilegal Yahudi juga terjadi di desa Jibiya pada Jumat. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan pelaku menyiramkan bahan bakar dan meninggalkan coretan slogan berbahasa Ibrani.
"tindakan teroris yang pengecut." kecam Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina.
Otoritas Palestina turut mengkritik sikap pasif komunitas internasional terhadap perusakan situs suci Muslim dan Kristen di tanah pendudukan. Hingga saat ini, belum ada tersangka pemukim ilegal yang ditangkap meski kepolisian Israel menyatakan sedang melakukan penyelidikan.