Seorang siswa bernama Kayla berhasil mengembangkan perban luka alternatif yang ramah lingkungan. Inovasi medis ini memanfaatkan lapisan selulosa atau SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) dari hasil fermentasi teh kombucha.
Seperti dikutip dari Suara, inovasi luar biasa tersebut dituangkan dalam sebuah makalah ilmiah. Penelitian itu berjudul "Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing".
Gagasan tersebut membawa Kayla mempresentasikan hasil temuannya dalam konferensi internasional di The NorthCap University, India. Jurnal ilmiahnya juga sukses dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Sciences.
Berkat penelitian tersebut, Kayla berhasil meraih pendanaan riset Global Youth Action Fund Grant senilai USD 2.500. Keberhasilan inovasi ini didukung penuh oleh lingkungan belajar tempatnya menimba ilmu.
Kayla menimba ilmu di BINUS SCHOOL Simprug selama 15 tahun sejak jenjang TK. Di sekolahnya, ia dikenal aktif sebagai Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, hingga klub tari tradisional.
"Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis... Saya didorong untuk berkembang secara holistik," kata Kayla.
Kemandirian berpikir dan kemampuan menulis riset independen ini dipupuk sejak dini melalui kurikulum International Baccalaureate (IB). Pendekatan tersebut memberikan ruang personal bagi siswa untuk mendalami minat mereka.
Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, Isaac Koh, menjelaskan bahwa lingkungan belajar yang tepat menjadi kunci utama memupuk potensi anak.
"Kami tidak hanya mempersiapkan mereka untuk diterima di universitas terbaik, kami mempersiapkan mereka untuk berkembang di sana," ujar Isaac Koh.
Kisah Kayla memberikan sudut pandang baru tentang generasi muda pada tahun 2026. Ruang eksplorasi yang tepat mampu mengubah tren gaya hidup sehat menjadi inovasi sains yang diakui dunia.