Siswa SMAN 40 Jakarta Ciptakan Sapu Teknologi dari Sampah Elektronik

Siswa SMAN 40 Jakarta Ciptakan Sapu Teknologi dari Sampah Elektronik

Salwa Fitri Oktavia, siswi SMA Negeri 40 Jakarta yang dijuluki Green Warrior, menciptakan inovasi Sapu Teknologi untuk membersihkan sampah di lingkungan sekolah pada Senin (11/5/2026). Dilansir dari Lestari, alat ini memanfaatkan komponen bekas seperti kardus, dinamo, dan tombol kipas angin guna mempermudah proses pembersihan lantai.

Karya ini berhasil membawa Salwa meraih peringkat pertama dalam ajang Expo Green Jobs yang diselenggarakan oleh Pertamina bersama Universitas Sebelas Maret (UNS). Inovasi tersebut muncul dari keresahan terhadap banyaknya limbah kardus dan komponen elektronik yang tidak terpakai di sekitar sekolah.

"Teknologi ini terinspirasi dari Gen Z. Gen Z itu kebanyakan mau yang instan-instan, jadi saya buatlah Sapu Teknologi ini. Jadi, alat ini bisa digunakan di kelas-kelas di SMAN 40 Jakarta. Nah, saya membuat alat ini tuh biar mudah aja dan praktis. Jadi, temen-temen tidak perlu lagi mengeluarkan banyak tenaga untuk membersihkan kotoran yang ada di lantai," ujar Salwa, Siswa SMAN 40 Jakarta.

Pembuatan alat ini difokuskan pada penggunaan kembali barang-barang yang sudah dianggap sampah. Salwa menjelaskan bahwa hampir seluruh material berasal dari barang bekas, kecuali penyimpan daya listrik yang digunakan untuk menggerakkan mesin.

"Kami mengambil dinamo kipas angin bekas yang enggak menyala tombol on-off-nya, tetapi dinamonya masih bisa dipakai," tutur Salwa, Siswa SMAN 40 Jakarta.

Meski sudah berfungsi, Sapu Teknologi tersebut masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Saat ini, putaran baling-baling yang digerakkan listrik terkadang membuat sampah kecil terpental karena belum adanya penutup wadah yang sempurna.

"Mungkin ke depannya bakal diperbagus lagi sih, seperti kardusnya tuh diganti mungkin pakai bahan plastik yang yang kayak tahu sekarang kalau bahan plastik itu kan pasti sering banget tuh menjadi masalah sampah," ucap Salwa, Siswa SMAN 40 Jakarta.

VP CSR SMEPP Management PT Pertamina, Rudi Ariffianto, memberikan apresiasi terhadap karya tersebut karena dinilai mampu memberikan solusi nyata atas permasalahan di lingkup terdekat siswa.

"Yang menjawab kebutuhan mereka apa di kelas di lingkungan sekolah. Nah kami menganggap apapun hasil yang mereka buat ya mereka ciptakan yang berupaya menjawab kebutuhan mereka menjawab keluhan mereka itu adalah yang terbaik yang mereka bisa buat," ujar Rudi Ariffianto, VP CSR SMEPP Management PT Pertamina.

Pertamina berencana melakukan evaluasi terhadap potensi replikasi inovasi ini ke sekolah-sekolah lain. Meskipun saat ini masih dalam bentuk purwarupa, karya para pelajar tersebut menunjukkan kesadaran tinggi terhadap transisi energi dan keberlanjutan lingkungan.

"Nanti, kami akan mengecek tingkat kebutuhannya, jangan-jangan enggak cuma di sekolah ini saja. Jadi, kebutuhan itu terjadi di sekolah-sekolah lain, itulah yang mungkin nanti Pertamina untuk coba melihat peluang, apakah ini mungkin bisa dilakukan skalanya lebih besar dan bisa digunakan oleh sekolah-sekolah di tempat lain," tutur Rudi Ariffianto, VP CSR SMEPP Management PT Pertamina.

Kepala Sekolah SMAN 40 Jakarta, Andriansyah, menilai program pengembangan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ini krusial untuk mencetak generasi masa depan. Sekolah ini sebelumnya telah dinobatkan sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional 2024 melalui program Sekolah Energi Berdikari (SEB).

"Sekarang diistilahkan berdikari, nanti insyaallah berdaulat mereka. Menjadi penting berkesadaran dan mempunyai karakter hemat energi, serta menguasai teknologi-teknologi yang berhubungan dengan energi dan lingkungan hidup," ucap Andriansyah, Kepala Sekolah SMAN 40 Jakarta.

Artikel terkait

Rekomendasi