Seorang siswa kelas XI SMK bernama Mandala Rizky Syaputra meninggal dunia di Samarinda, Kalimantan Timur, pada Jumat, 24 April 2026 dini hari setelah mengalami pembengkakan pada bagian kakinya. Kabar duka ini dikonfirmasi pihak sekolah melalui media sosial setelah menerima informasi dari keluarga korban, dilansir dari Detik Health.
Kematian Mandala menjadi sorotan setelah unggahan di media sosial menyebutkan bahwa kakinya membengkak akibat penggunaan sepatu yang terlalu kecil dalam durasi lama. Sebelum berpulang, pihak sekolah sebenarnya telah merencanakan pemberian bantuan sepatu layak pakai bagi siswa tersebut.
Pihak SMKN 4 Samarinda memberikan klarifikasi terkait kronologi wafatnya siswa mereka tersebut melalui pernyataan tertulis resmi di akun media sosial sekolah. Pengumuman ini juga mengungkap kendala biaya yang dihadapi keluarga saat kejadian berlangsung.
"Jumat dini hari kakak Mandala mengabarkan melalui WhatsApps kepada Wali Kelas dan Waka Kesiswaan bahwa Mandala telah meninggal dunia. Kakaknya juga memberitahukan bahwa tidak ada dana untuk pemulasaraan jenazah," tulis akun @smkn4_samarinda.
Sekolah secara tegas membantah spekulasi yang menyatakan bahwa penggunaan sepatu sempit menjadi penyebab utama kematian siswa tersebut. Menurut pihak sekolah, belum ada bukti medis yang mendukung kaitan langsung antara kondisi sepatu dengan wafatnya Mandala.
"Tanpa ada diagnosa (diagnosis) medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti. Tidak ditemukan luka pada bagian kaki, baik di tumit ataupun jari-jari kaki. Kaki membengkak di bagian punggung," tulis pihak sekolah.
Kondisi medis ini kemudian mendapatkan tanggapan dari ahli medis profesional untuk memberikan pandangan objektif terkait risiko kesehatan pada area kaki. Dokter spesialis ortopedi konsultan Foot and Ankle dari Siloam Hospitals Mampang, dr Langga Sintong, SpOT(K), menjelaskan adanya potensi komplikasi fatal meski membutuhkan pemeriksaan mendalam.
"Apa saja bisa terjadi. Tapi, untuk kasus ini, tidak tahu bagaimana hal tersebut mengakibatkan hal yang fatal karena tidak tahu riwayatnya (medis) persis," kata dr Langga.
Penjelasan lebih lanjut diberikan mengenai bagaimana pembengkakan bisa memicu kondisi yang membahayakan nyawa jika aliran darah terganggu secara signifikan. Hal ini mencakup risiko penyumbatan yang merembet ke organ vital lainnya.
"Bisa saja (kaki bengkak menjadi fatal), jika pembuluh darahnya bisa tertekan atau tersumbat," kata dr Langga.
Meskipun mengakui kemungkinan tersebut, dr Langga menekankan bahwa kasus kematian yang dipicu murni oleh sepatu sempit merupakan kejadian yang sangat langka dalam dunia medis.
"Jika tersumbat, jelas mengganggu aliran darah. Kemudian lama-lama bisa terjadi blood clot (gumpalan darah), terus jadi deep vein thrombosis, terus bisa lepas jadi emboli, nyangkut di paru, bisa sesak. Tapi ini jarang banger, apalagi dari sepatu sempit. Harusnya nggak," sambung dr Langga.