Skandal Pemalsuan Riset ISPPD 2026 Seret Modus Travel Grant

Skandal Pemalsuan Riset ISPPD 2026 Seret Modus Travel Grant

Sejumlah oknum asal Indonesia diduga melakukan pemalsuan identitas dan fabrikasi data riset pada konferensi bergengsi ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Praktik kecurangan ini diduga kuat bermotif untuk mendapatkan fasilitas travel grant atau hibah perjalanan gratis, seperti dilansir dari Medcom.

Para pelaku diketahui telah beberapa kali mengikuti konferensi internasional serupa. Mereka bahkan berhasil memperoleh dana hibah perjalanan serta penghargaan riset dari berbagai forum ilmiah lainnya melalui cara tersebut.

Berdasarkan informasi dari laman Weber State University, travel grant merupakan dana hibah khusus untuk menyokong biaya perjalanan akademisi atau peneliti dalam menghadiri konferensi ilmiah. Fasilitas ini umumnya meliputi tiket transportasi, akomodasi penginapan, hingga biaya registrasi kegiatan.

Keberadaan travel grant memungkinkan para peneliti berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional tanpa membebani finansial pribadi. Fasilitas ini menjadi sangat bernilai bagi kalangan akademisi yang menghadapi keterbatasan pendanaan riset.

Kelompok Sasaran Penerima Hibah

Melansir data International Studies Association (ISA), program travel grant dirancang untuk membantu kelompok akademisi dengan keterbatasan akses finansial. Ada tiga kelompok utama yang menjadi sasaran prioritas bantuan ini.

Pertama adalah peneliti muda atau junior scholars yang baru memulai karier akademik dan belum memiliki dukungan dana memadai. Kedua yaitu mahasiswa pascasarjana tingkat akhir yang aktif mempresentasikan hasil riset di forum ilmiah.

Ketiga merupakan akademisi dari negara-negara berpenghasilan rendah yang secara struktural terbatas untuk membiayai perjalanan internasional. Khusus pada konferensi tahunan ISA, hanya anggota terdaftar yang berhak mengajukan permohonan dana ini.

Syarat dan Ketentuan Pengajuan

Dikutip dari laman The Geological Society of America (GSA), kriteria mendapatkan travel grant bisa bervariasi tergantung pihak penyelenggara. Namun, ada beberapa ketentuan umum yang biasanya diberlakukan kepada pemohon.

Pemohon harus berstatus mahasiswa aktif atau merupakan anggota resmi dari organisasi ilmiah penyelenggara. Selain itu, mereka wajib mempresentasikan hasil penelitian secara langsung di konferensi, bukan sekadar hadir menjadi peserta.

Untuk GSA International Travel Grant, pemohon harus berdomisili di luar kawasan Amerika Utara. Dana bantuan tersebut baru akan dicairkan melalui transfer bank setelah pemohon selesai mempresentasikan risetnya.

Mekanisme Alokasi dan Pembatasan Dana

Dana travel grant dialokasikan seutuhnya untuk mendukung perjalanan akademik tanpa potongan lain. Untuk mengajukannya, peneliti harus mengirimkan proposal setelah mendapat konfirmasi penerimaan dari panitia konferensi.

Pengajuan idealnya dilakukan dalam kurun waktu 45 hari sejak surat penerimaan terbit demi mendapatkan harga tiket dan hotel yang terjangkau. Pemohon wajib menyertakan rincian estimasi biaya secara lengkap lewat sistem daring resmi.

Setelah kembali dari konferensi, penerima hibah wajib menyerahkan laporan realisasi anggaran beserta kwitansi resmi. Seluruh dokumen bukti pengeluaran ini harus diserahkan dalam jangka waktu 14 hari setelah kepulangan.

Weber State University menetapkan batas maksimal bantuan sebesar USD2.000 atau sekitar Rp35 juta karena melonjaknya biaya perjalanan. Pendanaan ini hanya diberikan kepada satu peserta per proyek riset dengan beberapa pembatasan pengeluaran.

Beberapa jenis pengeluaran seperti sewa kendaraan, uang harian, bahan bakar, serta akomodasi berbasis berbagi hunian seperti Airbnb dan Vrbo tidak ditanggung. Dana baru cair setelah peserta merampungkan seluruh kewajiban administrasi dan laporan keuangan.

Data Distribusi Global South

Program travel grant dari organisasi seperti ISA juga diarahkan secara konsisten untuk membantu peneliti dari negara berkembang. Mengutip laman isanet.org, porsi pendanaan tahunan dialokasikan khusus bagi pelamar dari kawasan Global South.

Berdasarkan data 2026, ISA menerima 396 pengajuan dan menyetujui 288 di antaranya dengan total dana mencapai USD211.200. Sebanyak 160 penerima berasal dari negara Global South dengan porsi dana sebesar USD140.900 atau sekitar 66,71 persen.

Jumlah tersebut mengalami perubahan dibanding data 2025 yang mencatat 625 pelamar dengan 372 pengajuan disetujui. Total dana tahun 2025 mencapai USD231.050, di mana 126 penerima berasal dari Global South dengan nilai pendanaan USD98.550.

Kasus pemalsuan ini memicu keprihatinan mendalam dari komunitas akademik dalam negeri. Dosen Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, yang ikut membongkar kecurangan ini memberikan peringatan terkait dampak jangka panjangnya.

"Fasilitas gratis yang didapat dengan cara curang sejatinya memiliki harga yang jauh lebih mahal," kata Ida Bagus Mandhara Brasika.

Menurutnya, taruhan terbesar dari praktik fabrikasi data ini adalah runtuhnya reputasi seluruh peneliti Indonesia di mata internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi