Angka kematian jemaah haji Indonesia pada tahun 1447 Hijriah mencatatkan penurunan dibandingkan tahun lalu berkat berjalannya sistem skrining kesehatan secara maksimal. Penurunan fatalitas ini dipengaruhi oleh pengetatan seleksi keberangkatan bagi jemaah dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi.
Sistem pemeriksaan medis berlapis yang diterapkan pemerintah dinilai efektif menekan risiko kesehatan di tanah suci, seperti dilansir dari Nasional. Penilaian positif terhadap pendekatan preventif ini disampaikan langsung oleh Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI saat melakukan pemantauan operasional ibadah haji.
Ketua Timwas Haji 2026 DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal memaparkan bahwa penurunan angka kematian tersebut menunjukkan keberhasilan penanganan kesehatan yang dilakukan secara terstruktur sejak fase keberangkatan dari tanah air, Senin (19/5/2026).
"Angka wafat menurun dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan skrining dan penanganan kesehatan dilakukan dengan sangat baik sejak keberangkatan," kata Cucun Ahmad Syamsurijal, Ketua Timwas Haji 2026 DPR RI.
Menurut laporan berkala, saat ini tercatat hanya tersisa sekitar 13 jemaah haji Indonesia yang berada dalam kondisi membutuhkan fasilitas safari wukuf maupun badal haji akibat keterbatasan fisik. Timwas Haji DPR RI meminta agar pola pengawasan kesehatan berlapis ini terus diperkuat secara konsisten mendekati fase puncak haji di kawasan Armuzna.
"Kami akan terus melakukan pengawasan agar pelayanan kepada jamaah tetap maksimal sampai seluruh rangkaian ibadah selesai," kata Cucun Ahmad Syamsurijal, Ketua Timwas Haji 2026 DPR RI.
Data penurunan ini juga diperkuat oleh catatan dari Kementerian Pengurusan Haji. Pihak kementerian mencatat terjadinya penurunan jumlah kematian yang sangat signifikan hingga hari ke-22 operasional keberangkatan jika dibandingkan dengan catatan periode yang sama pada musim haji tahun lalu.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan rincian perbandingan data statistik kematian jemaah antartahun tersebut saat berada di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Selasa (12/5/2026).
"Pada tanggal yang sama tahun lalu itu jumlah yang wafat 46 sampai 48 orang. Nah, tahun ini turun drastis, pada tanggal yang sama ini 24 orang," kata Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah.
Meskipun indikator statistik menunjukkan perbaikan yang nyata, pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak mengendurkan pengawasan medis. Kebijakan pemantauan kondisi fisik dan mental jemaah tetap dijalankan secara penuh demi mencegah penambahan jumlah kasus fatalitas di tanah suci.
"(Penurunan) ini akibat dari memang kita sangat ketat terkait dengan istithaah. Dan saya juga dengan Pak Menteri berulang kali menyampaikan harus lebih ketat. Bukan berarti ini angka statistik ya, kami tidak ingin ada yang bertambah," ujar Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah.