Menteri Luar Negeri RI Sugiono menuntut pertanggungjawaban penuh atas tewasnya empat prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) saat menghadiri pertemuan BRICS Foreign Ministers’ Meeting di New Delhi, India, pada Kamis (14/5/2026).
Dilansir dari Nasional, penegasan ini disampaikan Sugiono di tengah forum yang mengusung tema penguatan ketahanan dan kerja sama bagi negara-negara berkembang. Indonesia secara resmi memasuki tahun kedua keanggotaannya dalam blok BRICS pada tahun 2026 ini di bawah keketuaan India.
Kementerian Luar Negeri RI melaporkan bahwa dalam kesempatan tersebut Sugiono memberikan perhatian khusus pada aspek keselamatan personel di wilayah konflik.
"Dan menyerukan akuntabilitas penuh bagi pihak yang bertanggung jawab," tulis keterangan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.
Penegasan mengenai prinsip keselamatan personel penjaga perdamaian PBB disampaikan Sugiono sebagai hal yang tidak dapat ditawar. Menurutnya, BRICS sebagai kekuatan ekonomi berkembang memiliki tanggung jawab besar dalam stabilitas dunia.
"Nilai terbesar BRICS terletak pada penguatan suara negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global masa depan”, ujar Menlu Sugiono.
Empat prajurit TNI yang bertugas di Lebanon dilaporkan gugur dalam periode waktu yang berbeda sepanjang Maret hingga April 2026 akibat serangkaian serangan artileri dan proyektil.
Identitas personel yang wafat meliputi Praka Farizal Rhomadhon pada 29 Maret, disusul Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan yang gugur saat mengawal konvoi pada 30 Maret. Korban keempat, Praka Rico Pramudia, mengembuskan napas terakhir pada 24 April 2026.
Pihak UNIFIL menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya prajurit keempat yang sempat menjalani perawatan akibat luka parah dari serangan di Adchit Al Qusayr.
“UNIFIL prihatin atas wafatnya Praka Rico Pramudia, yang terluka parah akibat sebuah ledakan proyektil di markasnya di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret malam,” kata UNIFIL.