Momen akademis di Universitas Harvard, Amerika Serikat, menghadirkan suasana baru yang khidmat. Seorang mahasiswi bernama Suheila Mukhtar menarik perhatian publik global setelah melantunkan ayat suci Al-Qur'an dalam rangkaian acara kelulusan kampus elite tersebut.
Seperti dikutip dari Detikcom, Suheila dipercaya menjadi pembaca ayat suci Al-Qur'an berbahasa Arab dalam sesi lintas agama pada acara Baccalaureate Harvard University 2026. Penampilannya yang mengenakan blazer hitam dan hijab krem diunggah oleh kanal YouTube MemChurchHarvard hingga menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Suheila Mukhtar merupakan mahasiswi Harvard University angkatan 2022-2026 yang baru saja menyelesaikan studinya. Dalam prosesi tersebut, ia membacakan dua surah yang memiliki makna mendalam, yakni surah Al Alaq ayat 1-14 serta surah An Nur ayat 35.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari LinkedIn miliknya, Suheila dikenal sebagai sosok yang aktif di berbagai bidang. Fokus utamanya meliputi kesehatan masyarakat, pendidikan, kebijakan publik, serta riset akademik.
Selama menempuh studi di Universitas Harvard, ia juga bergabung dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan. Organisasi tersebut di antaranya adalah Harvard Muslim Women's Medical Alliance, Harvard Undergraduate Health Policy Review, dan STRIVE Boston.
Kiprah sosialnya juga tercatat sejak tahun 2024, di mana ia menjadi relawan rumah sakit sekaligus patient navigator di Mount Auburn Hospital. Selain aktif di bidang sosial, Suheila menorehkan prestasi akademis dengan meraih penghargaan John Harvard Scholar dan PRISE Fellow pada tahun 2024.
Suheila juga memiliki pengalaman dalam publikasi ilmiah yang mengulas topik konflik kepentingan pada jurnal bedah. Ia pun pernah menulis penelitian mengenai digitalisasi masyarakat desa serta pemberdayaan perempuan.
Bacaan dan Tafsir Surah An Nur Ayat 35
Surah pertama yang dibacakan oleh Suheila adalah An Nur ayat 35, yang kerap dikenal sebagai Ayat Cahaya. Berikut adalah teks suci beserta artinya:
۞ ٱللَّهُ NŪRUS-SAMĀWĀTI WAL-ARḌ, MAṠALU NŪRIHĪ KAMISYKĀTIN FĪHĀ MIṢBĀḤ, AL-MIṢBĀḤU FĪ ZUJĀJAH, AZ-ZUJĀJATU KA'ANNAHĀ KAUKABUN DURRIYYUY YŪQADU MIN SYAJARATIM MUBĀRAKATIN ZAITŪNATIL LĀ SYARQIYYATIW WA LĀ GARBIYYATIY YAKĀDU ZAITUHĀ YUḌĪ'U WALAU LAM TAMSAS-HU NĀR, NŪRUN 'ALĀ NŪR, YAHDILLĀHU LINŪRIHĪ MAY YASYĀ', WA YAḌRIBULLĀHUL-AMṠĀLA LIN-NĀS, WALLĀHU BIKULLI SYAI'IN 'ALĪM
Artinya: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Berdasarkan Tafsir Kemenag RI, surah An Nur ayat 35 ini menegaskan posisi Allah SWT sebagai Pemberi cahaya kepada langit, bumi, beserta seluruh isinya. Cahaya tersebut memastikan segala sesuatu di alam semesta berjalan dengan tertib, teratur, dan tidak menyimpang dari ketetapan-Nya.
Perumpamaan cahaya ini menggunakan analogi lampu cemerlang yang disesuaikan dengan persepsi manusia pada masa ayat tersebut diturunkan. Melalui ayat ini, Al-Qur'an diposisikan sebagai cahaya immaterial berupa keimanan dan pengetahuan bagi kehidupan manusia.
Bacaan dan Tafsir Surah Al Alaq Ayat 1-14
Selain Ayat Cahaya, Suheila juga melantunkan surah Al Alaq ayat 1-14 yang bermakna pentingnya menuntut ilmu pengetahuan. Berikut adalah teks suci beserta artinya:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ③ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥ كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓۙ ٦ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ ٧ اِنَّ اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىۗ ٨ اَرَاَيْتَ الَّذِيْ yAN-HĀۙ ٩ عَبْدًا اِذَا صَلّٰىۗ ١٠ اَرَاَيْتَ اِنْ كَانَ عَلَى الْهُدٰىٓۙ ١١ اَوْ اَمَرَ بِالتَّقْوٰىۗ ١٢ اَرَاَيْتَ اِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ ١٣ اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللَّهَ يَرٰىۗ ١٤
Iqra' bismi rabbikalladzî khalaq, khalaqal-insâna min 'alaq, iqra' wa rabbukal-akram, alladzî 'allama bil-qalam, 'allamal-insâna mâ lam ya'lam, kallâ innal-insâna layathghâ, ar ra'âhustaghnâ, inna ilâ rabbikar-ruj'â, a ra'aitalladzî yan-hâ, 'abdan idzâ shallâ, a ra'aita ing kâna 'alal-hudâ, au amara bit-taqwâ, a ra'aita ing kadzdzaba wa tawallâ, a lam ya'lam bi'annallâha yarâ.
Artinya: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (2) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, (4) yang mengajar (manusia) dengan pena. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (6) Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, (7) ketika melihat dirinya serba berkecukupan. (8) Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(-mu). (9) Tahukah kamu tentang orang yang melarang, (10) seorang hamba ketika dia melaksanakan salat? (11) Bagaimana pendapatmu kalau terbukti dia berada di dalam kebenaran (12) atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? (13) Bagaimana pendapatmu kalau dia mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan)? (14) Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?
Surah Al Alaq dipandang sebagai pilar perubahan peradaban, menandai transisi dari zaman jahiliyah menuju era benderang pengetahuan. Perintah "iqra" atau bacalah tidak sekadar membaca teks tertulis, tetapi juga meneliti fenomena alam semesta.
Tafsir Kemenag RI merinci bahwa ayat pertama hingga kelima menjelaskan proses penciptaan manusia dari segumpal darah serta kemurahan Allah SWT yang mengajarkan manusia melalui alat tulis. Kemampuan menulis ini memungkinkan ilmu pengetahuan diwariskan lintas generasi.
Sementara itu, ayat keenam hingga kedelapan menjadi peringatan bagi manusia yang cenderung melampaui batas saat merasa berkecukupan, serta menegaskan bahwa semua akan kembali kepada Sang Pencipta. Adapun ayat kesembilan hingga keempat belas mengisahkan konteks historis penentangan Abu Jahal terhadap ibadah shalat Nabi Muhammad SAW, sekaligus menegaskan bahwa Allah SWT mengawasi setiap perbuatan manusia.